Categories: Kisah

Safitri Malik Soulisa: Dari Ibu Rumah Tangga ke Panggung Politik, Menguatkan Perempuan Tanpa Menjatuhkan

Safitri Malik Soulisa, bupati perempuan pertama di Maluku memiliki perjalanan panjang yang dibangun dari kedisiplinan, ketegasan, dan nilai-nilai keluarga yang kuat.

Ia bukan lahir dari panggung politik, melainkan tumbuh sebagai perempuan biasa, yang kemudian menjelma menjadi figur inspiratif di tengah dinamika sosial dan politik di Maluku.

Dari Rumah Tangga ke Dunia Politik

Safitri mengawali perjalanannya sebagai ibu rumah tangga. Peran yang ia jalani dengan penuh kesadaran, sembari tetap menyimpan semangat aktif yang sudah terbentuk sejak muda.

Sejak masa sekolah, ia dikenal aktif dalam kegiatan organisasi seperti pramuka dan Paskibraka. Dari sana, ia belajar tentang disiplin, kepemimpinan, dan kemandirian—nilai-nilai yang kelak menjadi fondasi kuat dalam perjalanan hidupnya.

“Semua itu membentuk saya menjadi pribadi yang mandiri,” ungkapnya.

Langkahnya ke dunia politik bukan sesuatu yang direncanakan sejak awal. Namun lingkungan dan dinamika yang ia hadapi sehari-hari perlahan membawanya masuk ke ruang publik. Ia kemudian dipercaya menjadi anggota DPRD Provinsi, sebuah fase penting yang memperluas pengabdiannya kepada masyarakat.

Baginya, politik adalah dunia yang penuh dinamika dan ketidakpastian, namun justru di situlah daya tariknya.

Lingkungan yang Membentuk

Safitri lahir sebagai anak ketujuh dari tujuh bersaudara dari pasangan Drs Muhamad Malik dan Stien Sarapung Malik, sejak kecil ia dididik dalam keluarga yang menjunjung tinggi kemandirian.

Ayahnya adalah seorang camat
di Provinsi Maluku Utara, yang dulu masih menjadi bagian dari Provinsi Maluku—figur yang pada masanya memiliki kewenangan besar layaknya kepala daerah. Dari sang ayah, ia belajar tentang aturan, tanggung jawab, dan pentingnya menjaga integritas, termasuk dalam hal sederhana seperti tidak menyalahgunakan fasilitas negara.

Sementara dari ibunya, ia belajar ketegasan. Didikan keras yang ia terima sejak kecil membentuknya menjadi pribadi yang tidak bergantung pada orang lain.

“Semua harus dikerjakan sendiri. Itu yang membuat saya terbiasa mandiri,” kenang wanita kelahiran 15 September 1977.

Nilai-nilai itu pula yang ia tanamkan kepada anak-anaknya—memberi ruang berkembang, namun tetap dalam koridor disiplin dan tanggung jawab.

Keluarga dan Politik: Dua Dunia yang Menyatu

Dalam perjalanan hidupnya, Safitri melihat keluarga dan politik sebagai dua hal yang tidak terpisahkan. Lingkungan rumah yang kental dengan diskusi dan komunikasi politik secara tidak langsung memengaruhi anak-anaknya.

Tak heran jika kemudian anggota keluarganya turut terjun ke dunia politik. Namun baginya, itu bukan semata-mata ambisi, melainkan anugerah yang datang melalui proses panjang.

“Kalau dibilang melahirkan suami yang bupati dan dua anak yang jadi anggota dewan, itu anugerah. Tapi mendapatkan itu tidak gampang,” ujar istri Tagop Sudarsono Soulisa (Bupati Buru Selatan periode 2011-2021).

Mengagumi Kepemimpinan Perempuan

Dalam pandangannya, perempuan memiliki peluang yang sama untuk memimpin. Ia mengaku mengagumi sosok perempuan dari negara maju yang mampu menjadi perdana menteri—sebuah simbol bahwa perempuan bisa berada di posisi tertinggi dalam pemerintahan.

Di Indonesia, ia juga mengagumi banyak politisi hebat. Secara pribadi, ia menyampaikan simpatinya terhadap Hendrik Lewerissa, Gubernur Maluku saat ini, yang menurutnya memiliki figur kepemimpinan yang menarik.

Pesan Kuat untuk Perempuan: Jangan Saling Menjatuhkan

Salah satu pesan paling kuat yang terus ia suarakan adalah pentingnya solidaritas perempuan. Ia menyoroti fenomena “julid” atau saling menjatuhkan yang kerap terjadi di antara perempuan.

“Sesama kita jangan bullying, jangan julid. Setiap orang punya prosesnya masing-masing,” tegas lulusan S2 Administrasi Publik Fakultas FISIP Universitas Pattimura Ambon.

Menurutnya, keberhasilan seseorang sering kali dilihat dari permukaan, tanpa memahami perjuangan di baliknya. Ia memilih untuk tidak larut dalam penilaian negatif, bahkan ketika menghadapi tekanan atau komentar miring.

“Kalau ada yang menjatuhkan, saya anggap itu hal biasa,” katanya.

Menguatkan Diri di Tengah Tekanan

Dalam menghadapi berbagai persoalan, Safitri memiliki satu prinsip sederhana: mengadu kepada Tuhan.

Ia menyadari tidak semua orang mampu memahami atau mendukung perjalanan hidup seseorang dengan tulus. Karena itu, ia memilih menjaga ketenangan batin daripada terjebak dalam konflik.

Sikap ini menjadi kekuatan tersendiri dalam menghadapi dunia politik yang penuh tekanan.

Perempuan Harus Aktif dan Berani

Safitri juga menekankan pentingnya sikap proaktif bagi perempuan, terutama generasi muda.

Ia percaya bahwa keberhasilan tidak datang kepada mereka yang hanya menunggu, melainkan kepada mereka yang berani bergerak.

“Kalau mau berhasil, harus menjemput bola. Jangan menunggu,” pesannya.

Kepemimpinan sebagai Pelayanan

Baginya, jabatan bukanlah soal kekuasaan, melainkan tanggung jawab. Ia menegaskan bahwa seorang pemimpin adalah pelayan masyarakat.

“Bukan soal suka atau tidak suka, tapi bagaimana kita menjalankan amanah,” ujarnya.

Ia juga menekankan bahwa penerimaan masyarakat tidak ditentukan oleh asal-usul, tetapi oleh cara seseorang melayani dengan tulus.

Perempuan, Keluarga, dan Masa Depan

Di balik kiprahnya di ruang publik, Safitri tetap menempatkan keluarga sebagai fondasi utama. Ia percaya bahwa perempuan, khususnya ibu, memiliki peran strategis dalam membentuk generasi masa depan.

Ia membangun komunikasi terbuka dengan anak-anaknya, bahkan melibatkan mereka dalam pengambilan keputusan—sebuah cara sederhana untuk menanamkan nilai demokrasi sejak dini.

“Demokrasi itu dimulai dari rumah,” katanya.

Tentang Mimpi dan Keteguhan

Meski telah melewati banyak fase kehidupan, Safitri masih menyimpan mimpi sederhana: menjelajahi dunia, melihat langsung kehidupan di negara-negara seperti Amerika, Australia, dan Turki.

Namun dalam hal kehidupan pribadi, ia merasa cukup. Anak-anak telah tumbuh berhasil, dan perjalanan hidupnya telah memberi banyak pelajaran berharga.

Terkait politik, ia tidak menutup kemungkinan untuk kembali. Dua kali mengalami kekalahan tidak membuatnya berhenti.

“Kalau orang lain berhasil, itu bagian dari perjalanan. Tidak perlu iri,” ujarnya.

Menjalani Hidup dengan Ikhlas

Bagi Safitri, hidup adalah tentang menikmati proses. Dinamika, tantangan, hingga kegagalan adalah bagian yang harus dijalani dengan sikap positif.

Dari seorang ibu rumah tangga hingga menjadi figur publik, ia membuktikan bahwa perempuan memiliki kapasitas untuk berkembang, memimpin, dan memberi dampak.

Pesannya sederhana namun mendalam: perempuan harus percaya pada diri sendiri, berani melangkah, dan yang terpenting—tidak saling menjatuhkan.

Sebuah refleksi nyata bahwa kekuatan perempuan bukan hanya pada pencapaian, tetapi juga pada kemampuan untuk saling menguatkan. (it-02)