Ambon, indonesiatimur.co – Peringatan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) ke-67 di Balai Kota Ambon, Senin (04/05/2026) berlangsung berbeda. Di satu sisi, Wali Kota Ambon Bodewin Wattimena memberikan penghargaan kepada dua warga lanjut usia yang menjadi teladan dalam menjaga kebersihan lingkungan. Di sisi lain, ia melontarkan peringatan keras terhadap maraknya tawuran pelajar yang dinilai mengancam masa depan generasi muda Kota Ambon.
Di hadapan pimpinan Organisasi Perangkat Daerah (OPD), kepala sekolah, guru, serta Aparatur Sipil Negara (ASN), Bodewin secara khusus mengapresiasi dedikasi Niko Silooy dan Ishak Elmanusu. Meski telah memasuki usia senja, keduanya dinilai konsisten menunjukkan kepedulian terhadap kebersihan lingkungan dan menjadi contoh nyata bagi masyarakat.
Menurut Bodewin, menjaga kebersihan bukan hanya soal lingkungan fisik, tetapi juga mencerminkan kualitas karakter seseorang.
“Bersih bukan hanya lingkungan, tetapi juga hati dan pikiran. Kota yang bersih lahir dari masyarakat yang memiliki kesadaran dan tanggung jawab,” ujarnya.
Apresiasi terhadap kedua lansia itu sekaligus menjadi pesan bahwa perubahan besar dapat dimulai dari tindakan sederhana yang dilakukan secara konsisten. Keteladanan mereka dinilai sejalan dengan semangat pendidikan karakter yang terus didorong Pemerintah Kota Ambon.
Namun suasana berubah ketika Wali Kota menyinggung fenomena tawuran pelajar yang masih terjadi di sejumlah sekolah, terutama pada tingkat SMP. Dengan nada tegas, ia mempertanyakan komitmen dunia pendidikan dalam membentuk generasi yang berkarakter dan berdaya saing.
“Bagaimana kita bicara Indonesia maju kalau anak usia 12 sampai 15 tahun masih baku pukul di sekolah?” tegasnya.
Bodewin menilai tawuran, perundungan, dan berbagai bentuk kekerasan di lingkungan pendidikan merupakan alarm serius yang harus segera ditangani bersama. Ia menegaskan sekolah tidak boleh hanya menjadi tempat transfer ilmu pengetahuan, tetapi juga harus menjadi ruang aman untuk membangun karakter dan masa depan anak-anak.
Sebagai langkah konkret, Wali Kota mengeluarkan instruksi langsung kepada seluruh kepala sekolah di Kota Ambon. Mereka diminta segera mengumpulkan orang tua dan siswa untuk membahas secara khusus larangan tawuran, perundungan, dan kekerasan di lingkungan pendidikan.
Tak hanya itu, setiap sekolah diwajibkan mengirimkan dokumentasi video kegiatan tersebut sebagai bukti pelaksanaan kepada Pemerintah Kota Ambon.
Selain melibatkan orang tua, Bodewin juga meminta seluruh guru menyisipkan satu hingga dua menit pesan moral sebelum proses belajar mengajar dimulai. Pesan itu dapat berupa ajakan menjauhi kekerasan, membangun sikap saling menghormati, serta memperkuat nilai-nilai kemanusiaan.
“Pendidikan karakter harus dilakukan setiap hari. Jangan hanya mengajar mata pelajaran, tetapi juga membentuk kepribadian anak-anak kita,” katanya.
Dalam pernyataan yang cukup tegas, Wali Kota bahkan membuka kemungkinan bagi sekolah untuk mengembalikan siswa yang terus melakukan pelanggaran berat kepada orang tua apabila berbagai upaya pembinaan tidak lagi membuahkan hasil.
Ia mengingatkan bahwa berdasarkan data nasional, sekitar 62 persen anak pernah mengalami kekerasan verbal maupun perundungan di lingkungan sekolah. Angka tersebut menjadi peringatan bahwa dunia pendidikan masih menghadapi tantangan besar dalam menciptakan ruang belajar yang aman dan nyaman.
“Ini peringatan keras. Saya tidak menyalahkan siapa pun, tetapi saya meminta bukti nyata. Yakinkan saya bahwa sekolah-sekolah di Ambon bebas dari tawuran dan perundungan,” tandasnya. (it-02)

