Meski Anggaran Terbatas, Ambon Optimistis Tekan Stunting hingga di Bawah 5 Persen
Ambon, indonesiatimur.co – Di tengah kebijakan efisiensi anggaran yang membayangi banyak program pembangunan daerah, Pemerintah Kota Ambon justru memasang target berani: menurunkan angka stunting hingga di bawah lima persen pada tahun 2030.
Optimisme itu mengemuka dalam Pra Musrenbang Tematik Stunting Tahun 2026 yang digelar di Marina Hotel Ambon, Rabu (08/04/2026). Forum tersebut mempertemukan berbagai pemangku kepentingan mulai dari jajaran pemerintah, tenaga kesehatan, dunia usaha, organisasi masyarakat hingga media massa untuk menyatukan langkah dalam perang melawan stunting.
Wali Kota Ambon, Bodewin M. Wattimena, menegaskan bahwa tantangan keterbatasan anggaran tidak boleh menjadi alasan untuk mengendurkan upaya penyelamatan generasi masa depan.
“Sebagai pemerintah, kita tidak boleh pesimis. Keterbatasan yang ada harus dijawab dengan kreativitas, kolaborasi, dan kerja yang lebih efektif agar program penurunan stunting tetap berjalan,” kata Wattimena.
Menurutnya, stunting bukan sekadar persoalan tinggi badan anak yang tidak sesuai usia. Dampaknya jauh lebih kompleks karena berpengaruh terhadap kemampuan belajar, kesehatan jangka panjang, produktivitas kerja hingga daya saing bangsa di masa depan.
“Anak yang mengalami stunting berpotensi menghadapi hambatan perkembangan kognitif dan kesehatan. Karena itu, penanganannya harus menjadi tanggung jawab bersama,” ujarnya.
Hasil Mulai Terlihat
Upaya yang dilakukan selama beberapa tahun terakhir mulai menunjukkan hasil yang menggembirakan. Data menunjukkan prevalensi stunting di Kota Ambon terus mengalami penurunan.
Pada 2021 angka stunting tercatat sebesar 21,8 persen dan turun menjadi 19,7 persen pada 2024. Bahkan berdasarkan pemantauan tahun 2025, hanya terdapat 279 kasus stunting dari 17.450 balita yang diukur atau setara 1,60 persen. Hingga Februari 2026, jumlah tersebut kembali menurun menjadi 271 kasus dengan prevalensi 1,58 persen.
Capaian tersebut dinilai sebagai buah dari kerja kolaboratif berbagai pihak yang selama ini terlibat dalam program percepatan penurunan stunting.
Wattimena mengapresiasi kontribusi tenaga kesehatan, kader posyandu, TP PKK, perangkat daerah hingga masyarakat yang terus bekerja di lapangan memastikan intervensi kesehatan dan gizi dapat menjangkau kelompok sasaran.
Target Besar Menuju 2030
Meski tren penurunan sudah terlihat, pekerjaan rumah masih panjang. Dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kota Ambon 2025–2029, pemerintah menetapkan target penurunan stunting secara bertahap.
Tahun 2026 ditargetkan turun menjadi 14,7 persen, lalu 11,7 persen pada 2027, 8,7 persen pada 2028, dan 5,7 persen pada 2029. Puncaknya, Ambon menargetkan prevalensi stunting berada di bawah lima persen pada 2030.
Untuk mewujudkan target tersebut, pemerintah berupaya menjaga laju penurunan sekitar tiga persen setiap tahun melalui berbagai intervensi yang terintegrasi.
Menyatukan Data, Menentukan Prioritas
Pra Musrenbang Tematik Stunting juga menjadi momentum penting untuk menyelaraskan data dan menentukan fokus penanganan pada tahun-tahun mendatang.
Melalui forum ini, seluruh pemangku kepentingan diminta menyusun usulan program yang lebih tepat sasaran berdasarkan kondisi riil di lapangan. Hasil pembahasan akan menjadi bahan dalam penyusunan Musrenbang RKPD Tahun 2027, termasuk penetapan lokus stunting yang menjadi prioritas intervensi.
Bagi Pemerintah Kota Ambon, keberhasilan menekan angka stunting tidak bisa hanya mengandalkan sektor kesehatan. Dukungan dunia usaha melalui program tanggung jawab sosial perusahaan (CSR), keterlibatan organisasi masyarakat, serta partisipasi aktif keluarga menjadi faktor penentu.
“Kita mungkin menghadapi keterbatasan sumber daya, tetapi kepedulian terhadap masa depan anak-anak Ambon tidak boleh berkurang. Mereka adalah investasi terbesar daerah ini,” tegas Wattimena.
Dengan tren penurunan yang terus terjaga dan komitmen kolaborasi lintas sektor yang semakin kuat, Ambon kini tengah membangun optimisme baru: mewujudkan generasi yang lebih sehat, cerdas, dan siap bersaing menyongsong Indonesia Emas 2045. (it-02)

