Daerah Maluku 

Sweri Nelayan Lermatang Guncang Masela, INPEX Didesak Tuntaskan Kompensasi

Saumlaki, indonesiatimur.co – Proyek Strategis Nasional (PSN) Blok Masela kembali dihadapkan pada gejolak di tingkat lokal. Kali ini, puluhan nelayan dari Desa Lermatang, Kecamatan Tanimbar Selatan, Kabupaten Kepulauan Tanimbar, menggelar aksi adat sweri sebagai bentuk tekanan terhadap perusahaan INPEX Ltd yang mengelola proyek LNG Abadi.

Aksi yang berlangsung pada Senin (30/03/2026) itu bukan sekadar ritual adat. Para nelayan, baik nelayan tangkap maupun pesisir, turun langsung ke shelter milik PT Taka Hydrocore Indonesia, kontraktor INPEX, dan menghentikan aktivitas operasional sebagai protes atas kompensasi yang tak kunjung direalisasikan sejak 2024.

Situasi di lapangan sempat memanas. Massa yang kecewa nyaris merangsek masuk ke area shelter sebelum akhirnya dihalau aparat Polres Kepulauan Tanimbar yang diterjunkan untuk mengendalikan keadaan.

Pemerintah daerah pun tak tinggal diam. Sekretaris Daerah Kabupaten Kepulauan Tanimbar, Brampi Moriolkosu, bersama jajaran terkait, termasuk Kepala Kesbangpol Somalay Batlayeri dan pemerintah desa setempat, turun langsung memfasilitasi dialog antara nelayan dan pihak terkait. Mediasi berlangsung alot dan penuh tarik-ulur.

Persoalan utama berakar pada janji kompensasi bagi nelayan terdampak yang hingga kini belum terealisasi.

Skema awal yang berkisar Rp3 juta hingga Rp5 juta per nelayan dinilai sudah tidak relevan dengan kondisi saat ini.

Dalam pertemuan tersebut, nelayan sepakat menaikkan tuntutan menjadi Rp10 juta per orang.

Data yang disepakati mencakup 154 nelayan, terdiri dari 114 nelayan tangkap dan sisanya nelayan pesisir.
Namun, pemerintah daerah mengakui bahwa persoalan ini tidak sederhana.

Hingga kini, belum ada formula baku untuk menghitung kompensasi bagi nelayan tangkap.

“Perhitungan untuk nelayan tangkap harus jelas dan terukur, agar tidak menimbulkan persepsi markup. Ini masih perlu kajian teknis,” ungkap Sekda.

Kondisi ini menyoroti lemahnya kesiapan skema perlindungan ekonomi bagi masyarakat terdampak dalam proyek sebesar Masela.

Hasil mediasi menghasilkan kesepakatan sementara. Usulan kompensasi Rp10 juta akan disampaikan kepada INPEX Ltd untuk dipertimbangkan.

Perusahaan diberikan tenggat waktu hingga akhir pekan ini untuk memberikan respons. Jika tidak ada kepastian, potensi eskalasi aksi dinilai sangat terbuka.

“Setelah ada jawaban dari INPEX, kami akan menjadwalkan pertemuan lanjutan dengan masyarakat,” kata Sekda.

Usai dialog, aksi sweri akhirnya dicabut melalui prosesi adat. Namun, pencabutan tersebut belum menjadi penanda berakhirnya konflik.

Di balik ambisi besar proyek LNG Abadi, kegelisahan nelayan Lermatang masih membara. Bagi mereka, janji yang tak kunjung ditepati hanya akan memicu gelombang perlawanan berikutnya. (it-03)

Bagikan artikel ini

Related posts

Komentar anda:

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.