Rutan Ambon Kembangkan Peternakan Lele dan Ayam Kampung, Warga Binaan Disiapkan Mandiri
Ambon, indonesiatimur.co – Rumah Tahanan Negara (Rutan) Kelas IIA Ambon terus berbenah untuk meningkatkan kualitas pelayanan publik sekaligus memperkuat program pembinaan bagi warga binaan. Selain pembinaan kepribadian melalui kegiatan kerohanian, Rutan Ambon kini mengembangkan program kemandirian melalui budidaya ikan lele dan peternakan ayam kampung petelur.
Kepala Rutan Ambon, Meta Putera menegaskan, pembinaan tersebut menjadi bagian dari upaya mempersiapkan warga binaan agar memiliki keterampilan dan mampu menjalani kehidupan yang lebih baik setelah kembali ke tengah masyarakat.
Menurutnya, pembinaan tidak hanya berorientasi pada pelaksanaan masa pidana, tetapi juga membekali warga binaan dengan kemampuan yang dapat dimanfaatkan untuk memperoleh penghidupan secara mandiri.
“Tujuan kami membina warga binaan agar ketika keluar dari Rutan Ambon, mereka bisa berguna bagi masyarakat, bangsa, dan negara,” ujarnya di Rutan Ambon, Kamis (29/10/2026).
Perkuat Pembinaan Kepribadian
Dalam pembinaan kepribadian, Rutan Ambon bekerja sama dengan Kementerian Agama untuk memfasilitasi kegiatan keagamaan bagi warga binaan sesuai keyakinan masing-masing.
Bagi warga binaan beragama Islam, kegiatan pengajian dan tausiah dilaksanakan tiga kali dalam sepekan dengan menghadirkan ustaz. Sementara warga binaan beragama Kristen mendapatkan pelayanan kerohanian melalui ibadah yang dipandu pendeta.
Pembinaan tersebut diharapkan dapat memperkuat mental dan spiritual warga binaan, sekaligus menjadi bekal untuk membangun kehidupan yang lebih baik setelah bebas.
Tambah Budidaya Lele dan Ayam Kampung
Di sektor kemandirian, Karutan jelaskan bahwa Rutan Ambon memperluas kegiatan yang sebelumnya berfokus pada budidaya hidroponik. Kini, program tersebut dikembangkan melalui budidaya ikan lele dan peternakan ayam kampung petelur.
Gagasan peternakan ayam kampung berangkat dari pengamatan Kepala Rutan terhadap kebutuhan masyarakat di Ambon. Ia menilai telur ayam kampung relatif sulit ditemukan di sejumlah tempat yang dikunjunginya.
Pengamatan tersebut kemudian mendorongnya bersama jajaran untuk mengembangkan peternakan ayam kampung sebagai salah satu kegiatan produktif bagi warga binaan.
Sementara itu, pengembangan budidaya lele dilakukan melalui dua skema. Sebanyak 2.000 bibit ikan lele ditebar di lingkungan Rutan Ambon, sedangkan 5.000 bibit lainnya dikembangkan melalui kerja sama dengan masyarakat sekitar dengan memanfaatkan lahan yang disewa.
Program tersebut tidak hanya diarahkan untuk meningkatkan keterampilan warga binaan, tetapi juga membuka peluang keterlibatan masyarakat dalam kegiatan produktif.
“Kami tidak hanya mengembangkan kemandirian di dalam rutan, tetapi juga ingin masyarakat sekitar merasakan dampak dari program pembinaan ini,” katanya.
Dukung Ketahanan Pangan
Meta ungkapkan, pengembangan program pertanian dan peternakan tersebut juga menjadi bagian dari dukungan Rutan Ambon terhadap Asta Cita Presiden serta 15 Program Aksi Menteri Imigrasi dan Pemasyarakatan, khususnya dalam penguatan ketahanan pangan.
Karutan Ambon berupaya mengidentifikasi potensi dan keterampilan yang dimiliki warga binaan agar dapat dikembangkan secara optimal. Warga binaan yang memiliki pengalaman sebagai petani maupun tenaga pertukangan didorong untuk meningkatkan kemampuan sesuai bidang masing-masing.
Selain pembinaan internal, Rutan Ambon juga menjalin kerja sama dengan Balai Latihan Kerja (BLK) Provinsi Maluku untuk memberikan pelatihan keterampilan bersertifikat.
Melalui pelatihan tersebut, warga binaan diharapkan memiliki kompetensi yang dapat menjadi modal ketika kembali ke masyarakat, termasuk untuk bekerja maupun merintis usaha secara mandiri.
Tegaskan Pelayanan Gratis dan Tanpa Pungli
Di bidang pelayanan publik, Karutan Ambon juga melakukan pembenahan dengan menegaskan komitmen terhadap pelayanan yang transparan, humanis, dan bebas dari pungutan liar (pungli).
Kepala Rutan menginstruksikan seluruh pegawai untuk menjalankan tugas sesuai standar operasional prosedur (SOP) serta memberikan pelayanan secara profesional kepada masyarakat, keluarga warga binaan, maupun warga binaan itu sendiri.
Ia menegaskan, seluruh layanan, mulai dari kunjungan hingga pemenuhan hak-hak warga binaan, diberikan secara gratis.
Keluarga warga binaan juga didorong untuk menyampaikan kritik, saran, maupun pengaduan apabila menemukan pelayanan yang tidak sesuai ketentuan melalui saluran pengaduan yang tersedia.
“Kami tekankan kepada seluruh jajaran bahwa pegawai Rutan Ambon adalah pelayan masyarakat. Karena itu, bekerja harus sesuai SOP, tanpa pungli, dan tetap humanis kepada warga binaan maupun keluarganya,” tegasnya.
Terapkan Penghargaan Pegawai Teladan
Pembenahan juga menyasar sumber daya manusia (SDM) di lingkungan Rutan Ambon. Kepala Rutan mengajak seluruh pegawai untuk bersama-sama memperbaiki citra institusi melalui peningkatan disiplin, integritas, dan kualitas pelayanan.
Salah satu langkah yang diterapkan ialah pemberian penghargaan kepada pegawai teladan setiap bulan.
Penilaian dilakukan oleh jajaran pejabat berdasarkan prestasi dan kinerja pegawai. Pegawai yang dinilai menunjukkan kinerja lebih baik akan memperoleh sertifikat serta penghargaan tambahan sebagai bentuk apresiasi.
Program tersebut diharapkan dapat mendorong budaya kerja yang kompetitif dan positif, sekaligus memotivasi seluruh pegawai untuk meningkatkan kinerja.
Melalui pembenahan pelayanan, penguatan pembinaan kepribadian, serta perluasan program kemandirian, Rutan Ambon berupaya membangun lingkungan pemasyarakatan yang lebih produktif dan berorientasi pada perubahan perilaku.
Dengan demikian, warga binaan tidak hanya menjalani masa pidana, tetapi juga memperoleh bekal keterampilan, karakter, dan kepercayaan diri untuk kembali berkontribusi bagi masyarakat setelah menyelesaikan masa pembinaan. (it-02)
