Ekonomi & Bisnis Maluku 

Gubernur Minta HIPMI Tak Terjebak Rutinitas Kejar Proyek

Ambon, indonesiatimur.co – Gubernur Maluku Said Assagaff meminta Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI) di daerah ini, agar tidak terjebak dengan rutinitas mengejar proyek saja, tetapi mampu membuka ruang-ruang usaha baru berbasis potensi dan komoditi lokal.

Pernyataan tersebut disampaikan Gubernur Assagaff, saat membuka Musyawarah Daerah (Musda) ke-X
Badan Pengurus Daerah (BPD) HIPMI Provinsi Maluku, di Ambon, Sabtu (4/11/2017).

Advertisements

“Saya juga minta HIPMI jangan menempatkan diri sebagai sekelompok borjuis yang elitis, tetapi merakyat dan berada di garda terdepan dunia kewausahaan, serta sebagai pilar utama dan lokomotif pengembangan perekonomian daerah, sesuai dengan motto Pengusaha Pejuang dan Pejuang Pengusaha,” ujarnya.

Sebagai wadah yang menghimpun sumber daya pengusaha muda, Assagaff menilai, HIPMI punya posisi dan peran sangat strategis dalam rangka percepatan transformasi pembangunan di daerah ini.

Atas dasar itu, lanjut Assagaff, Pemerintah Provinsi Maluku menaruh harapan besar kepada HIPMI dalam kapsitasnya sebagai mitra strategis pemerintah daerah sangat diharapkan mampu memainkan peran-peran strategis dalam rangka membangun dunia wirausaha di kalangan muda.

“Sehingga HIPMI mampu ikut berkontribusi signifikan terhadap peningkatan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat di daerah ini,” tuturnya.

Namun Assagaff mengingatkan juga, beberapa tantangan yang harus dijawab oleh para pemuda di daerah ini.

Pertama, masih kuatnya mentalitas gerombolan di kalangan pemuda, yaitu rata-rata pemuda lulusan SMA dan perguruan tinggi suka bergerombol dan manggurebe pada satu isu atau bidang tertentu, dan jarang punya minat dan ide kreatif untuk mengembangkan diinya di bidang wirausaha.

“Kalau katong bertanya kepada anak-anak muda Maluku, jika selesai sekolah atau kuliah mau jadi apa, dapat dipastikan di atas 50% ingin menjadi Pegawai Negeri Sipil (PNS) atau Aparat Sipil Negara (ASN),” ungkapnya.

Menurut Assagaff, inilah yang disebut mentalitas ambtenaar. Selain itu, pilihan berikutnya adalah menjadi serdadu, yaitu tentara dan polisi.

Sedangkan rata rata pemuda yang tidak jadi PNS atau ASN, disebut Assagaff, rame-rame manggurebe masuk partai politik dalam rangka menjadi anggota dewan.

“Oleh karena itu, tak mengherankan begitu kuatnya mentalitas gerombolan. Ini menimbulkan generasi muda kita banyak yang menjadi pengangguran intelektual, menjadi beban pembangunan dan potensial berkembang menjadi potensi konflik di dalam masyarakat,” tandasnya.

Tantangan yang kedua, lanjut Assagaff, masih lemahnya semangat enterpreneurship. Begitu kayaknya sumber daya alam (SDA) yang kita miliki, membuat kita kurang tertantang untuk berwirausaha.

“Kalau katong mau perhatikan, rata-rata katong orang Maluku, kalau sudah punya uang atau makanan untuk beberapa Minggu atau bulan, katong sudah merasa aman dan tidak mau berusaha lagi,” ujarnya.

Demikian halnya, Assagaff katakan kalau sudah punya gaji perbulan dan bisa memenuhi kebutuhan untuk bulan itu, merasa sudah cukup. Sehingga modal yang dimiliki lebih bersifat konsumtif.

Hal yang berikut, menurut Assagaff, sebagai sebuah otokritik untuk HIPMI Maluku, dirinya memerhatikan pengembangan usaha masih didominasi oleh para kontraktor dan pada pengembang usaha di sektor riil.

Akhirnya, Assagaff katakan, banyak potensi lokal yang terabaikan atau belum dikelola secara maksimal, karena belum adanya industrialisasi untuk pengembangkan ekonomi berbasis potensi dan komodat ekonomi lokal.

Bahkan home industri dan ekonomi kreatif saja, disebutnya, belum berkembang secara baik. Padahal dia menyebut Maluku punya potensi komoditi lokal sangat kaya, contohnya pala.

Selain bisa dikembangkan menjadi manisan, Assagaff menyebutkan, pala juga bisa dibikin menjadi selai, juga bisa jadi jus, balsem, bahkan pada zaman Portugis pernah dikembangkan sebagai bahan dasar messiu senjata.

Selain itu, tambah Assagaff, dengan potensi wisata lokal kita yang luar biasa kaya, sejatinya kita bisa mengembangkan sektor parwisata industri menjadi sektor unggulan.

Assagaff membayangkan ke depan para pengusaha muda ini bisa mengembangkan travel bersakala internasional untuk menjual potensi wisata lokal kita ke manca negara, dan sebagainya.

“Menghadapi pelbagai tantangan yang beta kemukakan tadi, beta berharap, HlPMI sebagai organisasi yang menghimpun para para pengusaha muda, harus mampu berfikir besar, solutif dan transformatif,” pungkas Gubernur Assagaff. (it-01)

Comments

comments

Terkait

Komentar anda:

Facebook Auto Publish Powered By : XYZScripts.com