Maluku Pertanian 

Uluputty: Petani Masih Sulit Dapat Akses Modal dan Infrastruktur

Ambon, indonesiatimur.co – Anggota Komisi IV DPR RI Dapil Maluku Saadiah Uluputty menyebut, petani di Maluku masih sulit mendapatkan akses modal dan infrastruktur. Akibatnya, banyak dari mereka yang masih hidup di bawah kemiskinan. Petani harus mencari modal dengan cara lain, meskipun ada beberapa intervensi anggaran yang dialokasikan Kementerian Pertanian RI.

Hal ini disampaikan Uluputty saat menghadiri Bimtek Peningkatan Produksi Padi kepada para petani di Aula STIKes Maluku Husada, Kairatu, Kabupaten Seram Bagia Barat (SBB), Rabu (08/09/2021). Bimtek ini merupakan program dari Komisi IV DPR RI dan Kementerian Pertanian RI.

“Ketika kami berkunjung (Reses) ke daerah pertanian, beberapa masukan yang sering disampaikan adalah kurangnya akses dan infrastruktur, permodalan, pengetahuan teknologi tepat guna dan bantuan pembibitan,” sebutnya.

Uluputty juga menerangkan, saat dia mengadakan pertemuan dengan 19 Kelompok Tani di Waimital, Kabupaten SBB beberapa waktu lalu, ada beberapa persoalan lain yang disampaikan para petani di daerah itu. Yakni persoalan irigasi dan pupuk. Untuk mendapatkan pupuk, para petani terlebih dahulu merampungkan data diri terbaru. Data diri tersebut yang harus berbasis pada Kartu Tani.

“Dan sebagainya, yang berimbas pada bantuan pupuk petani. Kemudian, bantuan pupuk pun tidak sesuai dengan luasan lahan pertanian kita. Sementara di satu sisi, kita selalu berharap bantuan dari pemerintah bisa diptimalkan dengan baik oleh petani,”terangnya.

Menurut mantan Ketua Komisi D DPRD Maluku tersebut, pemberian bantuan pertanian yang tidak sesuai dengan target itu, salah satunya disebabkan oleh tidak adanya Bimtek. Pelaksanaan Bimtek perlu dilakukan sebelum bantuan diberikan kepada petani. Karena melalui Bimtek, persoalan yang sedang dihadapi petani bisa diselesaikan secara bertahap, salah satunya melalui bantuan dimaksud.

“Bisa jadi, program atau bantuan yang disampaikan tidak diawali dengan Bimtek. Tetapi kita akan rubah. Kita mulai dulu dengan bimteknya. Mengelompokkan dan mendampingi para petani. Setelah itu baru dibicarakan persoalan petani yang dibahas melalui diskusi (Bimtek), yang berhubungan dengan konteks tanaman pangan kita hari ini,” ujarnya.

Sebenarnya, lanjut Uluputty, ada beberapa daerah di Maluku yang memiliki potensi pertanian seperti di Kabupaten SBB, Maluku Tengah, Buru, Seram Bagian Timur (SBT) dan daerah transmigrasi yang masyarakatnya didominasi para petani dengan daerahnya merupakan tanaman pangan. Olehnya itu, diperlukan orientasi kebijakan. Sebab saat ini, pembangunan di sektor pertanian masih belum menjangkau para petani kecil.

Harapan dilakukannya orientasi kebijakan itu adalah kebutuhan pangan lokal di Maluku bisa terpenuhi dari produktifitas hasil. Dan ini menjadi ekspektasi kepada semua pihak, baik kepada anggota DPRD, pemerintah pusatnya, pemrov dan pemkab, agar bisa bersinergi dengan masyarakat untuk menyelesaikan persoalan masyarakat. Karena akan menjadi satu nilai peningkatan kesejahteraan yang berdampak luas dan berkelanjutan.

“Mudah-mudahan bisa mendorong peningkatan pada produk atau tanaman pangan kita. Tanaman yang memiliki kualitas unggulan. Harapan saya, mudah-mudahan program semacam ini bisa menjadi ajang untuk mendapat bantuan sarana prasarana infrastrukturnya,” harap Uluputty.

Usai menghadiri Bimtek, Uluputty dan pimpinan/staff Ditjen Tanaman Pangan Kementerian Pertanian RI, pimpinan/staff dinas pertanian Provmal, pimpinan/staff BPTP-BPTPH, pimpinan/staff Dinas Pertanian Kabupaten SBB dan pimpinan/jajaran STIKes Maluku Husada, melaksanakan panen di persawahan Desa Waimital (Gemba), Kabupaten SBB. (it-10)

Find this content useful? Share it with your friends!

Terkait

Leave a Comment

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.