Hukum Maluku 

Jeruji Besi Bukan Akhir, Kisah Rasul Paulus Bangkitkan Harapan Warga Binaan Lapas Wahai

Wahai, indonesiatimur.co – Suasana khidmat dan penuh kekhikmatan menyelimuti Gereja Ebenhaezer Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas III Wahai saat Warga Binaan beragama Kristen beserta sejumlah petugas laksanakan ibadah bersama, Minggu (25/10/2026). Ibadah kali ini bekerja sama dengan Gereja Protestan Maluku (GPM) Jemaat Bethsan dalam mendampingi pembinaan rohani di Lapas Wahai.

Kepala Lapas Wahai, Tersih Victor Noya, menyampaikan pemulihan karakter berbasis iman adalah pilar utama agar Warga Binaan sanggup melewati konsekuensi hidup dengan penuh ketabahan. “Pembinaan di Lapas Wahai tidak hanya fokus pada kepatuhan aturan fisik atau pembinaan kemandirian saja, melainkan menyentuh akar kepribadian lewat pembinaan kerohanian. Saya berharap nilai-nilai iman yang didapatkan hari ini diresapi dengan sungguh-sungguh oleh seluruh Warga Binaan sehingga membawa perubahan perilaku yang nyata dan menumbuhkan harapan baru yang kokoh bagi masa depan mereka,” harapnya.

Senada, Staf Subseksi Pembinaan, Frans Tepal, menjelaskan penyampaian firman rohani yang kontekstual sangat efektif untuk menyentuh hati para Warga Binaan. “Kami berupaya konsisten memberikan ruang seluas-luasnya bagi pembentukan mental spiritual Warga Binaan. Kedisiplinan rohani diharapkan mengubah cara pandang agar kelak saat bebas, mereka menjadi berkat dan terang di tengah masyarakat,” tuturnya.

Dalam ibadah kali ini, firman Tuhan yang diambil dari kitab Kisah Para Rasul 27:14–26 menjadi sumber kekuatan rohani, merefleksikan kisah Rasul Paulus yang tetap teguh memegang harapan di tengah terjangan badai dahsyat Angin Timur Laut saat berstatus sebagai tahanan. Khotbah yang dibawakan oleh utusan pelayan firman dari Majelis Jemaat GPM Bethsan Wahai, Pdt. Jhon. Asomate, mengajak seluruh jemaat, khususnya Warga Binaan, untuk merefleksikan makna badai kehidupan di balik jeruji besi. Ia menekankan hilangnya harapan di mata manusia bukanlah akhir dari segalanya jika kehidupan itu bersandar penuh pada kepunyaan Allah.

“Melalui firman hari ini, kita belajar dari Rasul Paulus. Berada di dalam kapal yang terombang-ambing di tengah laut sebagai seorang tahanan tidak membuatnya kehilangan identitas sebagai milik Allah. Bagi saudara-saudara kami di Lapas, jeruji besi bukanlah akhir dari masa depan. Tuhan tidak pernah membatasi pemeliharaan-Nya oleh tembok atau jeruji, asalkan kita mau tabah dan percaya penuh pada janji pemulihan-Nya,” ungkap Pdt. Jhon

Ibadah yang berlangsung humanis dan kondusif tersebut ditutup dengan doa bersama mohon perlindungan Tuhan dan keselamatan, serta pemberkatan untuk kelancaran proses pembinaan di lingkungan Lapas Wahai. (it-06)

Bagikan artikel ini

Related posts

Komentar anda:

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.