42 Peserta Ikut Lomba Menyanyi Kantor Imigrasi Ambon, Juri Ungkap Empat Kriteria Penilaian
Ambon, indonesiatimur.co – Menentukan peserta terbaik dalam lomba menyayi atau juga disebut Immigration Idol yang digelar Kantor Imigrasi (Kanim) Kelas I TPI Ambon dalam rangka memeriahkan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia bukan perkara mudah. Pasalnya, sebagian besar peserta dinilai memiliki kemampuan bernyanyi yang baik.
Ketua Dewan Juri, Thomas D. Huwae, M.Sn., mengatakan, terdapat empat kriteria utama yang digunakan dalam proses penilaian, baik pada tahap audisi maupun grand final.
“Kalau kriteria penilaian yang kami pakai dalam audisi kemudian nanti dalam grand final, pertama adalah kemampuan vokal, kemudian teknik bernyanyi, pesan yang dia sampaikan dari lagu, kemudian artistic overall, artinya penampilan secara keseluruhan,” kata Thomas.
Menurutnya, empat kriteria tersebut merupakan standar yang lazim digunakan dalam berbagai kompetisi bernyanyi, baik solo maupun kelompok. Namun, dalam lomba karaoke kali ini, penilaian lebih difokuskan pada empat aspek tersebut.
Untuk tahap audisi, peserta tampil tanpa iringan musik. Sementara pada babak grand final, peserta akan mendapatkan iringan musik.
Thomas mengakui, penampilan 21 peserta pada hari pertama memberikan kesan tersendiri bagi dirinya dan dua juri lainnya.
“Kesannya, Ambon Kota Musik. Memang rata-rata semua orang bisa bernyanyi. Sehingga menentukan yang terbaik daripada yang terbaik itu juga agak sulit,” ujarnya.
Kondisi tersebut membuat dewan juri harus menggunakan rubrik penilaian agar proses penjurian tetap objektif dan tidak dipengaruhi subjektivitas.
“Kenapa kami bertiga harus pakai rubrik penilaian? Supaya menempatkan posisi agar tidak bias. Misalnya kita menilai ini bagus, ini bagus, tetapi kita melihat apa kekurangannya dan apa kelebihannya. Itu yang kita nilai,” jelasnya.
Thomas menilai, seluruh peserta yang tampil pada hari pertama telah menunjukkan kemampuan yang baik. Namun, ia berharap peserta yang berhasil melaju ke grand final dapat meningkatkan kualitas penampilan mereka.
“Kesannya itu semua bernyanyi dengan baik. Harapan ke depan, ketika masuk final ini, mereka bisa lebih baik lagi,” katanya.
Ia berharap lomba tersebut tidak berhenti sebagai kegiatan internal semata. Menurutnya, pemenang nantinya diharapkan dapat menjadi contoh bagi instansi maupun komunitas lain untuk ikut menyelenggarakan kegiatan serupa.
“Dari lomba ini, pemenangnya bisa memberikan satu contoh yang baik buat instansi lain atau komunitas lain untuk bisa melakukan seperti ini,” ungkapnya.
Thomas menegaskan, predikat Ambon sebagai Kota Musik harus terus dihidupkan melalui berbagai kegiatan musik, termasuk kompetisi bernyanyi.
“Status Ambon Kota Musik itu tidak gampang. Predikat itu sudah didapat, bahkan kemarin dari UNESCO predikatnya excellent. Sehingga lomba-lomba seperti ini harus sering diadakan, bukan hanya di administrasi, tetapi di instansi mana pun,” pungkasnya. (it-02)


