Prof Mahsun Cegah Perpecahan Indonesia Timur Dengan Bahasa

PROF_MAHSUN

Prof Mahsun (duduk paling kiri ada tas coklat) sedang meneliti bahasa Namblong, Jayapura, langsung dengan para penutur asli. Foto: Mahsun for Jawa Pos

PROF Mahsun sering mengelus dada atas ancaman perpecahan di wilayah Indonesia Timur. Dia pun tergerak untuk ikut berusaha menyatukan wilayah sensitif itu dengan keahliannya di bidang bahasa.

————-

M. HILMI SETIAWAN, Jakarta

————

SUASANA restoran di salah satu sudut apartemen di kawasan Jakarta Timur yang semula sepi mendadak ramai Minggu siang itu (13/1). Canda tawa terdengar di salah satu meja. Itulah meja yang ditempati Prof Dr H Mahsun MS yang sedang mengisi hari libur bersama dengan keluarga besarnya.

“Kebetulan sanak saudara sedang berada di Jakarta,” ujar guru besar ilmu linguistik Universitas Mataram (Unram), NTB, yang sekarang menjabat kepala Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan tersebut. Hari itu memang spesial. Sebab, pada hari-hari biasa keluarga besar Mahsun tinggal di Sumbawa, NTB.

Bermacam sajian memenuhi meja makan. Sambil membuka file di komputer tabletnya, alumnus Universitas Jember (Unej) itu melayani Jawa Pos yang ingin menulis kiprahnya sebagai penjaga gawang kebahasaan di wilayah Indonesia Timur.

Selama ini Mahsun dikenal sebagai peneliti bahasa yang tekun dan tak kenal lelah. Dia melakukan pengkajian secara mendalam sehingga ada yang memberinya gelar detektif bahasa. Bertahun-tahun dia mengunjungi pulau-pulau besar di wilayah Indonesia Timur, mengonstruksi bahasa-bahasa daerah purba di pulau-pulau itu. Antara lain di Papua, Papua Barat, Maluku, dan Nusa Tenggara Timur (NTT).

Menurut peraih gelar magister dan doktor di Universitas Gadjah Mada (UGM) itu, urusan bahasa di kawasan Indonesia Timur sangat rawan. Gara-gara bahasalah, sebagian warga di Papua dan Maluku berniat memisahkan diri dari Indonesia.

“Sebagai orang yang lahir di Indonesia bagian timur, rasa-rasanya gerakan disintegrasi ini sulit ditangani jika hanya dengan senjata,” katanya.

Analisis Mahsun itu bukan tanpa dasar. Ketika tinggal cukup lama di Papua untuk meneliti bahasa daerah setempat, dia mendapatkan informasi bahwa ada pihak-pihak tertentu yang sengaja mencuci otak warga supaya merasa berbeda dengan bangsa Indonesia pada umumnya.

Suami Sihrahayu itu mengaku benar-benar kaget ketika mengetahui adanya upaya memecah belah Indonesia dengan skenario yang rapi tersebut. “Upaya itu ternyata sudah dilakukan para sarjana Eropa pada zaman penjajahan Belanda dulu,” papar dia.

Para sarjana asing itu, terang Mahsun, secara masif mencuci otak warga Papua, Maluku, dan sekitarnya. Mereka menanamkan pemahaman bahwa warga Papua dan Maluku merupakan bangsa non-Austronesia atau Melanesia. Nenek moyang bangsa non-Austronesia identik dengan penduduk Papua Nugini. “Ciri fisiknya, kata para sarjana itu, berkulit hitam dan berambut keriting seperti saya ini,” ujar dia, lantas tertawa.

Sedangkan wilayah Indonesia bagian tengah dan barat oleh sarjana-sarjana asing itu disebut sebagai wilayah Austronesia. Dijelaskan, ciri bangsa Austronesia sama dengan masyarakat yang ada di Pulau Sulawesi, Kalimantan, Sumatera, dan Jawa.

Pencucian otak yang terus-menerus dan berlangsung lama itu ternyata cukup berhasil. Buktinya, terang Mahsun, sampai sekarang banyak masyarakat di Papua, Papua Barat, dan Maluku yang merasa berbeda dari bangsa Indonesia di wilayah lain. Mulai perbedaan bahasa, genetika, hingga tampilan fisik seperti warna kulit dan bentuk rambut.

“Mereka terus menyebut dirinya sebagai warga keturunan Melanesia, bukan keturunan Austronesia,” tuturnya.

Kondisi masyarakat yang merasa berbeda itu membuat konflik gampang pecah di Papua, Papua Barat, dan Maluku. Persoalan itulah yang kemudian diperangi Mahsun dalam penelitiannya di daerah-daerah tersebut.

“Tetapi, saya tidak melakukannya dengan senjata, lho. Saya bekerja dengan kajian bahasa daerah,” papar pria kelahiran Jereweh, Sumbawa, 25 September 1959, itu.

Bersama dengan tim dari balai bahasa setempat, Mahsun memulai kajiannya dengan menelusuri bahasa-bahasa daerah di pedalaman Papua dan sekitarnya. Selain itu, dengan dibantu ahli genetika dia mengambil contoh darah warga setempat.

Hasil penelitian genetika menyebutkan bahwa orang Papua dan sekitarnya ternyata identik dengan penduduk Pulau Jawa dan pulau-pulau besar lain. Kesimpulan itu muncul dari analisis virus hepatitis.

Gen virus hepatitis yang menyerang orang-orang Papua tersebut adalah C6. Itu sama dengan kasus hepatisis yang dialami warga Indonesia pada umumnya. Padahal, satu jenis gen virus hanya menyerang orang yang memiliki ikatan genetis identik. “Dari tinjauan genetika, orang Papua masih saudara dengan Anda (orang Jawa, Red),” terang dia.

Mahsun belum puas dengan hasil kajian genetika itu. Dia kemudian menjalankan kajian bahasa atau linguistik. Setelah menelusuri kawasan pesisir Papua, dia menganalisis banyaknya bahasa daerah di wilayah itu.

Yang menarik, berdasar kajiannya, ternyata ada kemiripan struktur bahasa orang Papua dengan bahasa orang Jawa. “Saya kira, kenyataan ini menjadi salah satu “senjata” untuk melindungi Papua dari perpecahan akibat pemahaman yang keliru selama ini,” tambah dia.

Mahsun mencontohkan, di Papua ada bahasa daerah Tarfia yang berbunyi ik ne siwim (kamu mempunyai hidung atau hidung kamu).

Dari sekian tahun pengalamannya meneliti bahasa daerah di Indonesia Timur, Mahsun punya banyak kisah menarik di lapangan. Misalnya, saat dia meneliti bahasa daerah yang langka di pegunungan Sumbawa. Sebelum naik ke pegunungan, dia menggali informasi dari masyarakat di bawah gunung.

Setiba di daerah survei, Mahsun sempat dikecoh oleh seorang camat. “Dia mengatakan bahwa bahasa daerah yang saya teliti itu sudah punah. Tidak ada yang memakai bahasa itu lagi,” katanya.

Tidak mau dikelabui, Mahsun kemudian meminta izin untuk tinggal beberapa minggu bersama warga setempat. Dia menginap di rumah salah seorang warga. Dari situlah dia mengetahui bahwa sebenarnya masih ada warga yang menggunakan bahasa adat tersebut.

“Saya tahu bahwa bahasa itu masih dipakai justru secara tidak sengaja. Yakni, ketika warga yang saya tumpangi itu berteriak menggunakan bahasa adat tersebut,” ujar Mahsun mengenang kejadian saat itu.

Setelah dia telusuri, warga pegunungan Sumbawa ternyata merasa malu dikatakan masih menggunakan bahasa daerah yang benar-benar langka itu. “Saya lega begitu penelitian selesai dengan hasil yang cukup memuaskan,” tandas Mahsun. (*/ari/jpnn.com)

Comments

comments

Komentar anda: