Ekonomi & Bisnis Hot 

Ikan Busukpun Bisa Jadi Uang

Tual, MALUKU – Anggapan banyak orang yang menilai bahwa ikan busuk, ikan rucah, ikan non ekonomis ataupun limbah ikan yang dianggap tidak bisa dijadikan uang, ternyata berbeda salah kaprah. Sebab,  PT. Maritim Timur Jaya (MTJ) yang berlokasi di Desa Ngadi, Kecamatan Dullah Utara, Kota Tual, Maluku milik pengusaha bernama Tomy Winata menjadikan bahan tidak layak pakai tersebut sebagai bahan baku dalam industri, yakni pembuatan fishmeal atau pakan ternak.

Kepala Divisi (Kadiv) Umum, Sistem Prosedur (Sisdur) dan Pengawasan PT. MTJ, Dipa Tamtelahitu, di Tual, Selasa (9/10), menjelaskan, bahan baku yang digunakan untuk pembuatan fishmeal atau pakan ternak, berasal dari kepala dan jeroan ikan sisa proses produksi di perusahan. Sehingga dari proses produksi yang dilakukan, tidak menyisakan limbah.

“Tetapi selain itu, bahan baku juga kita peroleh dari nelayan lokal. Hasil tangkapan mereka yang tidak laku di pasar dan membusuk, berapa pun banyaknya dan apapun jenisnya, kita pasti beli. Jadi nelayan tidak perlu khawatir. Karena di sini (PT. MTJ), ikan busuk itu menjadi penghasilan tambahan bagi mereka,” jelasnya.

Bahan baku pembuatan fishmeal tersebut, awalnya dipacking dalam karung plastik, kemudian disimpan dalam coldstorage. Sehari sebelum dimulai pengolahan, bahan baku tersebut didistribusi dari coldstorage ke pabrik fishmeal, untuk proses pencairan bahan baku yang membeku.

“Saat tidak lagi dalam keadaan beku, bahan baku dimasukan ke alat pengolahan untuk proses pencucian, pencacahan, penghalusan, pengeringan dan pada akhirnya menghasilkan fishmeal dalam bentuk serbuk berwarna kuning kecoklatan. Fishmeal yang sudah jadi ini, kemudian dipacking lagi dan dimasukan ke tempat penyimpanan material yang diatur dengan suhu pendingin, sambil menunggu waktu pengiriman,” jelasnya.

Lebih jauh Tamtelahitu menjelaskan, Fishmeal yang sudah jadi tersebut, digunakan sebagai pakan ternak, khususnya ayam ras, dimana akan memberikan kualitas yang baik saat ternak tersebut bertelur. Salah satunya, ukuran telur yg relative lebih besar dari ukuran biasa.

“Sekarang Fishmeal yang sudah ada dan tersimpan di gudang penyimpanan material, sebanyak 60 ton yang siap dipasarkan ke pasaran lokal seperti Surabaya dan Jakarta. Namun kedepan akan diekspor ke Cina,” bebernya.

Tamtelahitu mengaku, dengan dilengkapi dengan fasilitas yang ada, kapasitas produksi fishmeal setiap hari bisa mencapai 80 ton. Namun akibat keterbatasan bahan baku, mengakibatkan proses pembuatan fishmeal tidak berlangsung setiap hari.

Olehnya itu, untuk mengisi kekosongan waktu saat pabrik tidak beraktivitas, karyawan bagian fishmeal diperbantukan di bagian produksi untuk pengerjaan proses lain. Salah satunya dalam penjemuran ikan teri, sortir, penimbangan sampai pada packing kemasan siap dipasarkan. [IL]

Find this content useful? Share it with your friends!

Terkait

Leave a Comment

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

Dirgahayu Kota Ambon