Atlet Cacat Minta Tidak Dianak Tirikan

Ambon, INTIM – Para atlet penyandang cacat di Maluku meminta KONI setempat untuk tidak tidak menganak-tirikan mereka dalam program pembinaan maupun berbagai keputusan lainnya.

“Jangan menganak tirikan kami, karena kenyataannya atlet cacat di Maluku telah memberikan sumbangsih besar guna mengangkat nama daerah ini di berbagai event nasional maupun nama Indonesia di tingkat internasional,” ujar Ketua NPC (National Paralimypic Committee) of Indonesia Provinsi Maluku, Adios Astan, pada Musyawarah Organisasi Provinsi (Musorprov) IX KONI Maluku, di Ambon, Jumat (23/11).

Pernyataan Adios Astan tersebut lantas mendapat uplaus dari puluhan pengurus provinsi (pengprov) sejumlah cabang olahraga maupun KONI Kabupetan – Kota yang sedang mengikuti Musorprov tersebut.

Adios Astan menilai KONI Maluku maupun Pemprov Maluku terkesan tidak mempedulikan prestasi yang ditorehkan para atlet cacat di berbagai event nasional maupun internasional, termasuk masalah pemberian bonus para atlet peraih medali pada Pekan Paralimpik Nasional (Peparnas) XIV Maluku di Riau pada Oktober 2012.

Dia mengatakan, atlet Peparnas XIV telah kembali pada 13 Oktober 2012 lalu, namun tidak ada kejelasan dari KONI setempat tentang bonus untuk para peraih medali.

“Saya terpaksa mengoordinasi para atlet untuk menemui Gubernur Maluku, Karel Albert Ralahalu untuk kali ketiga pada Selasa (20/11) guna melaporkan ketidakjelasan janji bonus yang mengecewakan para olahragawan,” ujarnya.

Para atlet cacat yang meraih medali pada Peparnas pun baru diberikan bonus oleh Pemprov Maluku yang penyerahannya dilakukan secara simbolis oleg Gubernur Ralahalu bersamaan dengan Musorprov Maluku, Jumat (23/11), itu pun jumlahnya berbeda dengan atlet peraih medali pada PON XVIII Riau.

Atlet cacat peraih medali emas hanya memperoleh bonus Rp50 juta atau hanya 50 persen dari besaran bonus yang diterima atlet PON yakni Rp100 juta, sedangkan perak Rp30 juta sedangkan atlet PON Rp50 juta dan peraih perunggu hanya Rp15 juta, sedangkan atlet PON Rp30 juta.

“Hingga penghargaan atas prestasi atlet juga berbeda. Ini berarti atlet cacat masih dianggap kelas dua oleh KONI dan Pemprov Maluku, padahal prestasi yang ditorehkan jauh lebih besar dari yang dihasilkan atlet-atlet pada PON di Riau,” tandasnya.
Sebanyak 25 atlet cacat Maluku yang diterjunkan pada Peparnas dan berlaga di cabang olahraga renang (9 orang), tenis meja (8), atletik (4), serta catur dan bulutangkis masing -masing dua atlet, dengan meraih sembilan medali emas dan perunggu serta 11 medali perak.

Sedangkan pada Peparnas XIII di Kaltim pada 2008 Maluku berada di peringkat ke-12 dengan meraih delapan medali emas, tiga perak dan dua perunggu. [IL/ANT]

Find this content useful? Share it with your friends!

Terkait

Leave a Comment

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

Dirgahayu Kota Ambon