Warga Memilih Bertahan di Kaki Gunung Rokatenda

Gunung Rokatenda
Gunung Rokatenda

Abu vulkanis yang dimuntahkan gunung Rokatenda membuat jalan menuju dua desa di kaki itu di Pulau Palue, Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur (NTT), terputus. Dua desa yang terisolasi itu adalah Nitunglea dan Lidi di Kecamatan Palue, berjarak sekitar 200 meter dari puncak Rokatenda.

Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) NTT Tini Thadeus mengatakan warga memilih bertahan di rumah masing-masing untuk mengawasi tempat tinggal dan harta benda.

“Sesuai kepercayaan masyarakat setempat, rumah atau kampung yang ditinggalkan dampaknya akan tertutup debu vulkanis,” kata Tini di Kupang, Selasa (9/4).

Akibat letusan yang terjadi sejak akhir Maret lalu sedikitnya 3.200 warga di Kabupaten Sikka yang tinggal di di sekitar gunung mengungsi. Rumah mereka rusak dihantam debu yang keluar dari kawah. Selain mengungsi di wilayah Sikka, ada juga sebagian warga mengungsi ke Kabupaten terdekat yakni kawasan Ropa di Kabupaten Ende.

Tini mengatakan, warga yang masih bertahan di dua desa itu lebih dari 1.000 orang dan bertugas menjaga kampung. Sebagian besar warga lainnya sudah mengungsi ke Flores. Gunung Rokatenda, atau juga disebut Gunung Paluweh, adalah gunung berapi yang terletak di Pulau Palu’e sebelah utara Pulau Flores NTT.  Letusan terhebat terjadi pada 4 Agustus – 25 September 1928,  yang sebagian besar terjadi karena tsunami menyusul gempa vulkanik. (HAN)

Find this content useful? Share it with your friends!

Terkait

Leave a Comment

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

Dirgahayu Kota Ambon