Maksimalkan Target Lifting, Ekplorasi Migas Bergeser ke Indonesia Timur

[foto: int]
[foto: int]
Jakarta – Sumber minyak di wilayah Indonesia bagian barat semakin menipis. Hal itu membuat pergeseran kegiatan eksplorasi migas pindah ke wilayah timur dan laut dalam. Semua itu dilakukan guna memaksimalkan target lifting di Indonesia.

Direktur Pembinaan Program Migas Kementerian ESDM, Naryanto Wagimin mengungkapkan, banyak tantangan dan persoalan yang harus dihadapi diantaranya hasil pengeboran di laut dalam yang masih kurang menggembirakan.

“Padahal, biaya pengeboran di laut dalam membutuhkan biaya yang lebih besar, mencapai empat kali lipat dari biaya normal dibandingkan pengeboran onshore, yaitu mencapai US$ 80-100 juta,” kata Naryanto, beberapa waktu lalu.

Naryanto menjelaskan, untuk melakukan operasi di Indonesia Timur membutuhkan insentif supaya pengembangan migas di sana bisa terus meningkat. Tantangan lain yang perlu mendapat perhatian yakni belum ditemukannya migas di wilayah Indonesia yang berbatasan dengan Papua Nugini.

“Padahal, di perbatasan Papua Nugini sudah menghasilkan migas, tapi kenapa di sisi Indonesia belum menghasilkan migas,” sambung Naryanto.

Naryanto menjelaskan, sejumlah lapangan telah dikembangkan di Indonesia Timur seperti Lapangan Tangguh, Masela, dan Donggi Senoro.

Menurut data yang dilansir oleh Direktorat Jenderal Migas, Kementerian ESDM, terdapat 39 cekungan yang berlokasi di Indonesia bagian Timur. Namun cekungan yang telah beroperasi hanya beberapa saja seperti di Seram, Salawati, Bintuni, dan Bone. Ada pula yang telah dibor namun belum berproduksi diantaranya Biak, Banggai, dan Sula.

Pengamat migas dari Energy Watch, Mamit Setiawan mengatakan sebenarnya target lifting minyak dalam APBN 2014 sebesar 870.000 barel per hari bisa saja terpenuhi. Hal itu apabila perusahaan-perusahaan minyak yang ada mau serius mengeksplorasi.

Menurut Mamit, perusahaan minyak saat ini mencoba mencari titik aman saja, di angka 804.000 barel per hari.

“Seharusnya target lifting di APBN bisa tercapai asalkan perusahaan minyak mau meningkatkan produksinya dan melakukan maintanance sumur-sumur yang sudah ada,” kata Mamit.

Disamping itu, pemerintah juga harus lebih serius dalam mengarahkan upaya eksplorasi terhadap sumur-sumur minyak baru dilakukan di wilayah Indonesia bagian timur. Itu karena selama ini, ekplorasi hanya dilakukan di Pulau Jawa, Sumatera, dan Kalimantan. (as)

Find this content useful? Share it with your friends!