Ekonomi & Bisnis Nasional 

Penundaan Pembangunan Smelter, Pengamat: ‘Ini Berbahaya Bagi Indonesia’

[foto: int]
[foto: int]
Manado – Indonesia sebagai Negara yang kaya bahan tambang mineral tetap menjadi incaran perusahaan tambang dari berbagai dunia. Oleh karenanya, sebetulnya pemerintah memiliki bargaining position yang lebih kuat dibanding perusahaan tambang.

Pengamat Ekonomi dari Universitas Sam Ratulangi Manado, Agus Tony Poputra mengungkapkan bahwa bahan tambang adalah sumber daya yang tidak terbaharukan, sehingga pemberian penundaan bagi perusahaan untuk membangun pabrik pengolahan (smelter) sangatlah berbahaya.

“Itu seakan memberi kesempatan kepada mereka untuk menghabiskan secepatnya deposit tambang,” katanya seperti dilansir Tubasmedia,com, 31.01/15.

Apabila, deposit tambang memang sudah menipis, maka larangan ekspor bahan tambang mentah atau pembangunan smelter sangat tidak berguna sama sekali bagi Indonesia.

“Karena investor tambang akan angkat kaki dan meninggalkan kemelaratan dan masalah lingkungan di masa mendatang,” jelasnya.

Kondisi ini, kata Agus, disebutkan dengan ‘Kutukan Sumber Daya Alam’ dan pernah dialami oleh kebanyakan Negara di Afrika.

Diketahui sebelumnya, terjadi tarik ulur antara pemerintah dan PT Freeport Indonesia dalam hal pembangunan Smelter. Sampai kini, belum ada titik temu, PT FI ingin membangun smelter di Gresik Jawa Timur sementara pemerintah ingin agar smelter itu dibangun di Papua di dekat penambangan itu dilakukan. (ak)

Find this content useful? Share it with your friends!

Terkait

Leave a Comment

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.