Hot Nasional 

Masih Sedikit Pemilik Rhesus Negatif yang Tergabung di Komunitas

Ketua Komunitas Rhesus Negatif Indonesia, Lici Murniati. [foto: istmw]
Ketua Komunitas Rhesus Negatif Indonesia, Lici Murniati. [foto: istmw]
Jakarta, indonesiatimur.co – Pemilik golongan darah langka rhesus negatif di Indonesia yang diperkirakan berjumlah 1% dari seluruh penduduk Indonesia, diharapkan bergabung ke dalam Komunitas Rhesus Negatif Indonesia. Hal ini disampaikan Ketua Komunitas Rhesus Negatif Indonesia, Lici Murniati kepada indonesiatimur.co di kawasan Cilandak, Jakarta (15/04/2015).

Tercatat saat ini sudah 1.595 pemilik rhesus negatif yang sudah bergabung dalam Komunitas Rhesus Negatif Indonesia. Jumlah tersebut masih sangat sedikit dari perkiraan sekitar 2,5 juta pemilik darah langka ini di seluruh Indonesia. Lici mengungkapkan bahwa untuk membantu percepatan pendataan, pihaknya membutuhkan juga bantuan relawan.

“Kami juga belum menemukan cukup relawan yang dapat membantu pendataan pemilik rhesus negatif ini, padahal kebutuhan sudah pasti ada. Kebutuhan di daerah-daerah tersebut pun biasanya lebih banyak dibandingkan dengan member (komunitas rhesus negatif) yang ada (di daerah tersebut),” ungkap Lici.

Lebih lanjut Lici menjelaskan bahwa kebutuhan darah rhesus negatif di daerah biasanya lebih banyak dibandingkan persediaan di PMI ataupun donor rhesus negatif di daerah tersebut. “Selama ini yang terjadi adalah mereka dapat tapi tidak sesuai dengan kebutuhan, misalnya mereka butuh 3 kantong, tapi dapat hanya 1 kantong karena mereka (rumah sakit daerah) kesulitan mencari donor pemilik rhesus negatif. Akibat kekurangan tersebut maka permintaan akan masuk (meminta suplai) ke jakarta. Jadi dari Jakarta yang donor dan kemudian dibawa ke daerah yang membutuhkan.” jelasnya lebih lanjut.

Terkait dengan tumbuhnya kesadaran dari pemilik darah rhesus negatif, Lici menjelaskan bahwa prosesnya juga bergantung pada kegiatan sosialisasi donor darah. Maka hanya daerah-daerah yang sudah aktif membina kegiatan donor darah secara rutin saja di mana kemudian komunitas pemilik rhesus negatifnya berkembang.

“Mungkin dulu pemeriksaan rhesus nya di-skip yah.. ada orang rata-rata melakukan donor ya donor saja tetapi tidak di-mention tentang rhesusnya. Sekarang Palang Merah Indonesia (PMI) mulai menseleksi karena banyak teman-teman kita yang sudah rutin donor darah bertahun-tahun tapi baru beberapa tahun terakhir mereka tahu bahwa darah mereka dinyatakan ber-rhesus negatif.” tukas Lici.

Lici juga menjelaskan bahwa hubungan antara Komunitas Rhesus Negatif dengan PMI hanyalah hubungan kemitraan. Komunitas menghindari untuk terlalu masuk ke dalam prosedur permintaan darah rhesus negatif. “Kami selalu mengarahkan kepada mereka yang butuh bahwa mereka harus memasukkan surat dari rumah sakit ke PMI setempat. Kemudian kita koordinasikan dengan PMI. Kalaupun ada permintaan langsung ke kita, maka kita akan minta mereka untuk memasukkan surat sesuai prosedur rumah sakit dan PMI. Kalau memang mereka tidak ada pendonor, kita akan carikan pendonor.”

Menurut Lici pemilik rhesus negatif di kawasan Indonesia timur yang tergabung dalam komunitas masih sangat sedikit. Anggota komunitas yang lebih aktif ada di Sulawesi, sementara di Maluku belum ada sama sekali. Beberapa pemilik rhesus negatif juga sudah terdeteksi di Papua, ketika mereka ingin mendonorkan darahnya. Rata-rata mereka sudah tahu bahwa mereka bisa mendonorkan darahnya saat itu namun tidak bisa rutin, karena kelangkaannya, darah rhesus negatif ini lebih dibutuhkan pada saat darurat di mana pendonor diharapkan selalu sehat. [Senopati M]

 

Find this content useful? Share it with your friends!

Terkait

Leave a Comment

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

Dirgahayu Kota Ambon