Ekonomi & Bisnis Hot Maluku 

Soal Blok Masela, Menteri ESDM ‘Ngotot’ dan Tak Pedulikan Saran Tokoh Maluku

[foto: int]
[foto: int]
Ambon – Menteri Energi Sumber Daya Alam Sudirman Said ngotot agar pengelolaan Blok Masela dilakukan dengan LNG terapung sekalipun merugikan dan tidak menunjang pembangunan masyarakat sekitar.

Padahal sebelumnya, Menko Maritim dan Sumber Daya Rizal Ramli dan Menko Polhukam Luhut Panjaitan memberikan saran agar itu tidak dilakukan. Bahkan, Sudirman juga tak peduli dengan desakan publik.

“Misalnya tehadap hasil Musyawarah Nasional Masyarakat Maluku pada bulan  November 2015 lalu, yang merekomendasikan tujuh hal dimana salah satu pointnya meminta pengelolaan Blok Masela dilakukan on shore (di darat),” seperti dilansir RMOL, (08/01).

Advertisements

Sementara itu, Tokoh Maluku Engelina Pattiasina mengatakan bahwa pengolahan gas Blok Masela dengan metode Floating Liquefied Natural Gas (FLNG) ini dipastikan akan menambah persoalan baru di Maluku.

“Kalau pengelolaannya di tengah laut, siapa yang mau mengawasi?” kata Engelina, seperti dilansir RimaNews, (09/01).

Menurutnya, Blok Masela posisinya di tengah perairan Indonesia dan Australia, maka akan sangat riskan jika tetap dibangun di tengah laut.

“Jika tetap dibangun menggunakan metode terapung atau di tengah laut, saya yakin gas nya itu akan tersedot ke Australia atau ada transaksi ilegal di tengah laut,” jelasnya.

Lebih lanjut, Engelina menyayangkan sikap Menteri ESDM Sudirman Said yang terkesan begitu ngotot untuk pembangunan FLNG Blok Masela. Sudirman, kata dia, tidak pernah membuka ruang diskusi terbuka bagi masyarakat Maluku untuk membahas Blok Masela.

“Secara sepihak, sambung Engelina, Sudirman Said memutuskan pembangunan kilang Blok Masela secara terapung. Memangnya siapa Menteri ESDM itu? Dia kok menginginkan kehendaknya sendiri. Dia (Sudirman Said) itu orang Indonesia atau asing sih?,” terangnya. (as)

Comments

comments

Terkait

Komentar anda:

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.