Maluku Jadi Model Desa Peduli TBC Mandiri

Ambon, indonesiatimur.co -Asosiasi Rumah Sakit dan Balai Kesehatan Paru Indonesia (ARSABAPI) yang dideklarasikan pada 15 Juli 2012 di Bukit Tinggi, Sumatera Barat, mendukung penuh Program “Desa Peduli TBC Mandiri” yang digagas oleh Balai Kesehatan Paru Masyarakat (BKPM) Ambon, untuk menjadi program percontohan bagi daerah-daerah lain di Indonesia guna mencapai target “Eliminasi TBC Tahun 2030” oleh Kementerian Kesehatan RI.

Hal ini dikatakan Ketua Umum Asosiasi Rumah Sakit dan Balai Kesehatan Paru Indonesia (ARSABAPI), dr. M. Ali Toha saat memberikan keterangan pers di hari pertama pembukaan Rapat Kerja Nasional Asosiasi Rumah Sakit dan Balai Kesehatan Paru Indonesia (ARSABAPI) Tahun 2018 di Hotel Santika, Ambon, Jumat (13/7), sekaligus launching program “Desa Peduli TBC Mandiri”.

Advertisements

Rakernas ARSAPABI berlangsung di Ambon Ambon sejak 13 hingga 15 Juli, mengusung tema “Dukungan Fasilitas Pelayanan Kesehatan (Fasyankes) Paru Dalam Mencapai Sustainable Development Goal’s” khususnya mendukung Program Kemenkes dalam mencapai “Eliminasi TBC Tahun 2030″.

Menurutnya, ini menjadi salah satu program unggulan yang kedepannya diharapkan dapat menggerakkan peran serta masyarakat dalam pemberantasan TBC. ” Hal ini sangat sesuai dengan peran Fasyankes Paru khususnya Balai Kesehatan Paru dalam menjalankan fungsi Usaha Kesehatan Masyarakat (UKM) secara lebih nyata dan perlu segera diwujudkan dalam mendukung program pemerintah. Oleh karena itu pengurus ARSABAPI beserta seluruh Fasyankes berharap Desa Peduli TBC Mandiri ini dapat digaungkan agar berkembang ke seluruh Indonesia dan akan menjadi sasaran program unggulan ARSABAPI 2018-2019 dan menjadi percontohan bagi daerah-daerah lain di Indonesia dalam mencapai target tersebut (Eliminasi TBC Tahun 2030),”ujar Toha.

Dijelaskannya,gagasan awal Desa Peduli TBC ini, digagas oleh BKPM Ambon karena Maluku berada pada ranking ke-4 di Indonesia untuk kategori penderita TBC, sehingga BKPM Ambon melakukan terobosan baru demi menekan angka penderita TBC di Maluku.

Untuk bisa mencapai target Kemenkes “Eliminasi TBC Tahun 2030” melalui program dari Maluku ini, Toha mengakui butuh dukungan lintas sektor khususnya jajaran pemerintah daerah juga. Dalam Program ini, dirinya menjelaskan bahwa nantinya lebih ditekankan pada pencegahan TBC melalui cara mendidik kader-kader kesehatan agar memiliki pengetahuan tentang TBC. Disamping itu juga akan dilakukan pendampingan dalam pengobatan karena masa pengobatan bisa mencapai lima bulan dan potensi untuk “Drop Out” bagi sang penderita cukup besar. “Melalui program ini nanti bisa deteksi dini gejala TBC, juga dijarakan untuk disiplin pengobatan ke masyarakat dan yang paling penting adalah harus dibawah pengawasan dokter. Kalau obat TB gratis,”tuturnya.

Sementara itu Plt Kepala BKPM Ambon, dr. Samsila Mona Rumata selaku pencetus Program “Desa Peduli TBC Mandiri”, menjelaskan, program ini baru dijalakan mulai tahun 2018 di Maluku. Dimana desa pertama yang menjadi lokasi penerapan program tersebut adalah Desa Batu Merah, Kecamatan Sirimau, Kota Ambon. Direncanakan tahun depan, program ini akan diperluas ke Kabupaten/Kota lain di Maluku. “Jadi baru di Desa Batu Merah, karena kita melihat dari segi akses ya supaya akses pendampingan itu bisa terlaksana dengan baik. Dan di tahun depan kita akan terapkan di kabupaten/kota lain,”tuturnya. (it-01)

Comments

comments