Ilustrasi Vaksin Covid-19Kesehatan 

Pengembangan Vaksin Virus Corona Bukan untuk Kebutuhan Sesaat

Beberapa negara saat ini serius berlomba menciptakan vaksin virus Corona dengan harapan penyebaran virus Corona bisa terkendali bahkan berhenti. Namun percepatan pengembangan vaksin yang sangat tinggi ini justru menjadi celah keraguan mengenai efektivitasnya. Satu pertanyaan yang sering muncul dari keraguan tersebut adalah berapa lama vaksin akan efektif membangkitkan kekebalan penggunanya terhadap virus Corona.

Saat ini pertanyaan-pertanyaan itu hanya bisa dijawab dengan pernyataan komitmen dari para pengembangnya. Semuanya menyatakan bahwa pengembangan vaksin tidak hanya digunakan saat masa pandemi seperti yang terjadi saat ini saja tetapi untuk jangka panjang. Beberapa vaksin corona yang sudah melakukan uji klinis fase III adalah vaksin Pfizer, vaksin Sinovac, vaksin Sinopharm dan sebagainya.

Advertisements

Vaksin Virus Corona Dipersiapkan untuk Jangka Panjang

Melalui keterangan tertulis, Rabu (21/10/2020), Menteri Riset dan Teknologi (Menristek), Bambang Brodjonegoro menyatakan bahwa saat ini vaksin virus Corona yang dikembangkan oleh beberapa negara masih tahap uji klinis fase I dan II. Hanya beberapa saja yang sudah masuk ke uji klinis fase III, salah satunya adalah Sinovac di China, Brazil dan Indonesia.

Sebelum uji Klinis, vaksin virus Corona di Indonesia sendiri telah melewati 2 tahap yakni Eksplorasi dan Praklinis. Ini merupakan identifikasi antigen alami atau sintesis berupa virus yang dilemahkan dan uji kultur sel. Uji kultur sel pada tahap pra klinis sendiri menggunakan media hewan berupa tikus atau monyet yang bertujuan untuk mengetahui tingkat keamanan vaksin dan kemampuannya subyek dalam respons imun.

Walaupun perlombaan pengembangan vaksin ini telah menjadi bagian dari strategi perusahaan farmasi untuk mendongkrak tingkat kepercayaan dan nilai sahamnya di bursa, vaksin yang dihasilkan haru memenuhi berbagai standar seperti keamanan, efektivitas, dan kemanjurannya harus terbukti. Trend bisnis ini terlihat bagi perusahaan farmasi pengembang vaksin virus Corona yang telah mencapai uji klinis fase III.

Bambang sendiri menjelaskan bahwa uji klinis fase III ini bukan akhir dari proses pengembangan vaksin Corona. Perlu adanya pengawasan dan penelitian lebih lanjut tentang keamanan, keampuhan sampai kemungkinan efek samping yang timbul pada orang yang diberi vaksin.

Tingkat usia juga perlu diperhatikan ketika uji klinis fase III ini. Mayoritas kelompok relawan dengan usia produktif yakni 18-59 tahun menjadi tantangan tersendiri dan perlu perhatian khusus. Vaksin belum tentu bekerja dengan baik apabila diberikan pada relawan di luar kelompok usia tersebut.

Selain itu, menurut Bambang harus melihat antibodi yang muncul setelah pemberian vaksin. Berapa lama antibodi muncul untuk mengenal virus Corona dan mengusirnya, dan belum tentu pemberian vaksin hanya satu kali seumur hidup. Menurut data WHO, setelah 6 bulan sampai 2 tahun, seseorang harus disuntik vaksin kembali. Hal inilah yang membuat vaksin tidak hanya untuk kebutuhan sesaat, namun merupakan jangka menang dan jangka panjang.

Status Uji Coba di Indonesia

Vaksin Sinovac yang saat ini sedang diuji di Indonesia menurut laporan yang ada semuanya berjalan lancar, artinya relawan yang diberi vaksin dalam kondisi baik. Namun tetap perlu pengawasan dan antisipasi apabila terdapat temuan diluar perkiraan.

Virus Corona yang dikenal cepat bermutasi menjadi tantangan tersendiri bagi pengembang vaksin. Maka penetapan kerangka waktu masa efektivitas vaksin menjadi penting. Bila ditemukan kasus Covid-19 pada pengguna vaksin dalam jangka waktu antara 6 bulan sampai 2 tahun, maka pengembangan vaksin baru harus siap dilaksanakan kembali.

Contoh yang sudah terjadi di lapangan adalah temuan clyde GH di Indonesia yang pada awal pandemic hanya ditemukan dominasi clyde L. Temuan ini menunjukkan bahwa virus Corona telah bermutasi, meskipun belum menimbulkan tingkat keparahan dan penularan yang lebih berat.

Dampak pandemi yang langsung dirasakan oleh semua elemen masyarakat adalah peningkatan perhatian terhadap dunia kesehatan. Namun karena keganasan Virus Corona jugalah yang membuat munculnya keengganan masyarakat untuk berkonsultasi ke rumah sakit. Kondisi seperti inilah yang kemudian dijawab oleh aplikasi kesehatan seperti Halodoc, di mana masyarakat bisa berkonsultasi dengan dokter melalui aplikasi atau sekedar memperoleh informasi kesehatan tanpa harus keluar rumah.

Manfaat penting lain yang ditawarkan oleh Halodoc adalah tentunya informasi terkini mengenai pengembangan Vaksin Covid, selain informasi gaya hidup sehat dan berbagai penyakit. (ttp)

Comments

comments

Terkait

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.