Agenda Maluku 

Samapta Juara Lomba Vocal Group Polda Maluku

Ambon, indonesiatimur.co – Biasanya mereka berdiri tegap di balik seragam, mengatur lalu lintas, mengungkap kejahatan, menjaga keamanan, hingga melayani masyarakat di berbagai lini tugas. Namun pada Kamis (25/06/2026), puluhan personel Polda Maluku tampil dalam wajah yang berbeda. Mereka meninggalkan sejenak rutinitas penegakan hukum dan berganti peran menjadi penyanyi yang menyuarakan harmoni dalam Lomba Vocal Group Antar Satuan Kerja (Satker) Polda Maluku.

Ajang yang menjadi bagian dari rangkaian peringatan Hari Bhayangkara ke-80 itu menghadirkan suasana penuh semangat, tawa, dan kebersamaan di lingkungan Polda Maluku. Sebanyak 22 tim dari berbagai satker ikut ambil bagian, menampilkan kemampuan vokal sekaligus kreativitas yang selama ini jarang terlihat di balik tugas-tugas kepolisian.

Bagi Polda Maluku, perlombaan ini bukan sekadar mencari siapa yang memiliki suara terbaik. Lebih dari itu, kegiatan tersebut menjadi ruang untuk memperkuat ikatan emosional antarpersonel sekaligus menumbuhkan semangat kekeluargaan dalam tubuh institusi.

Ketua Panitia Pelaksana, Kombes Pol Indra Gunawan, mengatakan lomba vocal group digelar sebagai sarana mempererat silaturahmi sekaligus membangun soliditas internal melalui pendekatan seni dan budaya.

“Tujuan penyelenggaraan lomba ini adalah untuk mempererat tali silaturahmi antarpersonel, meningkatkan kekompakan, menumbuhkan kreativitas, serta memperkuat semangat kebersamaan dalam keluarga besar Polda Maluku melalui seni dan budaya,” ujarnya.

Nuansa kebersamaan langsung terasa sejak para peserta mulai tampil di atas panggung. Berbagai satker yang sehari-hari menjalankan fungsi berbeda tampak berkolaborasi menyuguhkan penampilan terbaik. Ada yang tampil sederhana namun harmonis, ada pula yang menghadirkan koreografi dan konsep panggung yang memikat perhatian penonton.

Setiap tim yang beranggotakan maksimal 10 personel diwajibkan membawakan dua lagu. Lagu wajib “Maluku Tarus Biking Bae” menjadi benang merah yang menyatukan seluruh peserta, sementara satu lagu pilihan memberi ruang bagi masing-masing tim untuk menunjukkan karakter dan kreativitasnya.

Pemilihan lagu wajib tersebut bukan tanpa alasan. Lagu itu membawa pesan kuat tentang persaudaraan, optimisme, dan semangat membangun Maluku secara bersama-sama. Nilai-nilai yang sejalan dengan semangat Hari Bhayangkara ke-80 dan slogan yang terus digaungkan, “Maluku Tarus Biking Bae, Besaudara Tarus Biking Bae.”

Dewan juri pun tidak hanya menilai kemerduan suara. Harmonisasi, ketepatan nada, kreativitas penampilan, penguasaan panggung hingga kepatuhan terhadap aturan perlombaan menjadi aspek penting dalam penilaian.

Setelah melalui persaingan yang ketat, Direktorat Samapta berhasil keluar sebagai Juara I dan berhak membawa pulang trofi serta hadiah pembinaan sebesar Rp5 juta. Posisi Juara II diraih Direktorat Reserse Kriminal Umum dengan hadiah Rp3,5 juta, sementara Direktorat Pengamanan Obyek Vital menempati posisi Juara III dengan hadiah Rp2 juta.

Tidak hanya itu, penghargaan Busana Terbaik diberikan kepada SPN Polda Maluku yang tampil memukau dengan konsep kostum yang menarik dan selaras dengan penampilan mereka di atas panggung.

Di balik hasil perlombaan, ada pesan yang jauh lebih penting dari sekadar kemenangan. Kegiatan ini memperlihatkan sisi humanis anggota Polri yang kerap luput dari perhatian publik. Di tengah tanggung jawab besar menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat, para personel juga memiliki ruang untuk mengekspresikan bakat, kreativitas, dan kebersamaan.

Melalui lantunan lagu yang dinyanyikan bersama, mereka membuktikan bahwa harmoni tidak hanya dibangun melalui tugas dan disiplin, tetapi juga melalui rasa persaudaraan yang tumbuh dari kebersamaan.

Perayaan Hari Bhayangkara ke-80 di Polda Maluku pun menjadi lebih bermakna. Bukan hanya tentang refleksi pengabdian kepada bangsa dan negara, tetapi juga tentang merawat kekompakan internal sebagai modal utama dalam memberikan pelayanan terbaik kepada masyarakat.

Karena pada akhirnya, polisi yang kuat bukan hanya lahir dari profesionalisme, tetapi juga dari kebersamaan yang terjaga. Dan di Ambon, harmoni itu terdengar jelas melalui suara-suara yang bersatu dalam satu panggung: panggung persaudaraan keluarga besar Polda Maluku. (it-02)

Bagikan artikel ini

Related posts

Komentar anda:

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.