Pindah Profesi, Ribuan Hektar Sawah Terbengkalai

Ambon, indonesiatimur.co – Kurang lebih 1000 hektar sawah di Kabupaten Buru terbengkalai akibat para petani telah beralih profesi menjadi penambang emas di lokasi penambangan ilegal Gunung Botak, kabupaten setempat.

“Sedikitnya 1.000 hektar sawah di Waiapo dan sekitarnya terbengkalai oleh para petani, karena lebih tergiur menjadi penambang emas di Gunung Botak,” kata Kepala Dinas (Kadis) Pertanian Maluku, Diana Padang, Selasa (30/4), di Ambon.

Dirinya mengaku, dengan adanya penambangan ilegal di Gunung Botak, telah berdampak negatif terhadap program pengembangan padi sawah, yang mana Pulau Buru telah ditetapkan sebagai lumbung padi masa depan Maluku.

“Sejak ditetapkan sebagai lumbung padi maluku, Pulau Buru diharapkan dapat memenuhi kebutuhan beras masyarakat di provinsi ini. Tetapi pada kenyataannya, dengan keberadaan pertambangan emas liar, semua program yang telah dilakukan selama ini menjadi mubasir dikarenakan para petani setempat lebih tergiur menjadi penambang karena pendapatannya berlipat ganda dibanding menjadi petani,” ungkapnya.

Tidak hanya itu, lima sampai enam hektar sawah yang sudah ditanam padi tidak dipanen, bahkan lahannya juga dibiarkan terbengkalai oleh pemiliknya lantaran sudah beralih menjadi penambang emas.

Dijelaskannya, dampak lain akibat adanya penambangan liar Gunung Botak yakni target produksi padi Maluku tidak tercapai.

“Produksi padi Maluku tahun 2012 hanya mencapai 84.270 KG gabah kering giling (GKG), padahal yang ditargetkan sebanyak 115 ton gabah kering giling (GKG). Sebab, sedikitnya 1.000 hektar sawah di Pulau Buru tidak ditanam maupun dipanen oleh petani,” katanya.

Sementara untuk tahun 2013, Dinas Pertanian Maluku terpaksa menurunkan target produksinya menjadi 98 ton GKG.

“Kontrak dan kesepakatan bersama Dinas Pertanian Maluku dengan Dirjen Pertanian menetapkan produksi beras Maluku tahun 2013 sebanyak 98 ton GKG. Hanya saja dengan adanya penambangan liar di Gunung Botak, target tersebut dikhawatirkan tidak akan tercapat, karena tidak adanya petani yang mau menggarap sawahnya,” katanya.

Dirinya mengatakan, saat ini Dinas Pertanian Maluku sedang mengupayakan beberapa strategi yang bertujuan agar para petani dapat kembali menggarap sawahnya, salah satunya dengan memberikan bantuan peralatan panen berupa traktor, agar para petani dipermudah untuk memanen, di samping bantuan pemberdayaan lainnya.

“Diharapkan dengan adanya bantuan yang diberikan termasuk optimalisasi sarana irigasi teknis, para petani di Pulau Buru dapat kembali bergairah untuk mengolah sawahnya,” katanya. (I03T)

Find this content useful? Share it with your friends!

Terkait

Leave a Comment

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

Dirgahayu Kota Ambon