Laut Indonesia Timur Kekurangan Radar Militer

[foto: int]
[foto: int]
Jakarta – Sebagian besar pertahanan lautan nusantara khususnya di bagian Indonesia Timur masih polos alias tanpa deteksi dini radar laut militer. Saat ini, jumlah radar laut militer yang dimiliki TNI Angkatan Laut (TNI AL) hanya 20 stasiun.

“Sesuai data TNI AL, wilayah laut yang belum tercover dengan pantauan radar militer ada di sebagian besar Indonesia Timur, seperti Papua, Maluku, dan Nusa Tenggara Timur (NTT),” kata Kepala Dinas Penerangan TNI AL Laksamana Pertama (Laksma) Manahan Simorangkir seperti dilansir JPNN.

Menurut Simorangkir, Radar laut militer bisa mendeteksi adanya pelanggaran batas wilayah, perompakan kapal, hingga pencurian ikan.

“Karena itu, daerah yang belum terlindungi radar laut militer, seperti sebagian besar wilayah laut Indonesia Timur menjadi rawan,” sambungnya.

Tanpa radar laut militer, lanjut Simorangkir, dapat dipastikan ancaman pencurian ikan hingga pelanggaran batas wilayah laut Indonesia tidak terdeteksi.

“Tentunya TNI AL berupaya lebih maksimal menjaga wilayah laut, bisa menggunakan cara patrol kapal dan sebagainya,” tuturnya.

Lebih lanjut, Simorangkir menambahkan, kebutuhan untuk pengadaan radar laut militer memerlukan kajian mendalam. Apalagi, ini juga berhubungan dengan tujuan dan teknologi radar laut yang digunakan.

“Untuk apa dulu, pertahanan atau hanya mengawasi pencurian ikan. Kalau hanya mengawasi pencurian ikan, radar pantai sudah cukup. Namun, untuk sistem pertahanan radar satelit memang yang terbaik,” jelasnya.

Find this content useful? Share it with your friends!