Daerah Maluku 

Ini Penilaian Masyarakat Di Usia Tanimbar Ke-21

Saumlaki, indonesiatimur.co –¬†

Pasca peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) Kabupaten Kepulauan Tanimbar yang ke 21, 4 Oktober kemarin, dimana Kabupaten yang bertajuk Bumi Duan Lolat ini telah menginjak masa kedewasaan, berbagai pencapaian dalam program pembangunan daerah maupun kendala atau kekurangan yang dialami oleh pemerintahan Bupati Petrus Fatlolon dan Wakil Bupati Agustinus Utuwali, tetap dirasakan dan dinikmati oleh seluruh warga Tanimbar, mulai dari ujung Molomaru, hingga Selaru.

Tanggapan positif maupun negatif dari masyarakat, sempat dihimpun media ini dalam sesi wawancara singkat terhadap segelintir warga yang ditemui, Rabu (07/10/2020). Ada tanggapan dari ibu Lidwina Laluur (62) yang merupakan seorang pedagang asal Pulau Fordata tentang perkembangan Tanimbar hingga kini. Menurut ibu yang memiliki lima orang anak ini, Tanimbar dari waktu ke waktu, sejak masih menyandang nama Kabupaten Maluku Tenggara Barat (MTB) hingga berganti nama menjadi Kabupaten Kepulauan Tanimbar (KKT), suasana maupun penampilannya sangat mengalami kemajuan pesat. Berbagai pembangunan terus ditingkatkan untuk kepentingan masyarakat serta akses jalan yang telah menghubungkan berbagai desa yang dulunya tidak dapat diakses dengan kendaraan. Hal ini bagi dirinya, merupakan berkah dan anugerah dari Tuhan, dimana sebagai pedagang, dirinya dapat dengan mudah membawa hasil dagangannya untuk dijual di Kota Saumlaki. Sedangkan dari sisi pembangunan, ia bahkan mengucap syukur karena dirinya, bahkan anak-anak maupun seluruh warga Tanimbar bisa menikmati manfaat dari pembangunan tersebut, seperti sekolah, pasar, pertokoan, sarana umum lainnya, maupun sarana kesehatan.

“Maluku Tenggara Barat dolo sampe sekarang sudah jadi Kabupaten Kepulauan Tanimbar, tambah baik dan maju. Bapak bisa lihat saja jalan-jalan yang ada. Dolo katong mau ke kota saja susah. Harus lewat laut deng ada yang jalan kaki. Pembangunan juga sudah maju, mulai dari sekolah, pasar, toko, sampe puskesmas. Samua itu kan kita masyarakat dan anak-anak kita yang nikmati dan itu berkat dan anugerah Tuhan bagi Tanimbar menurut beta,” ungkap ibu Lidwina bangga.

Ada juga ibu Olivia Bwariat (37), warga Desa Lauran yang turut memberikan masukannya. Dirinya memberikan keterangan tentang berbagai upaya Pemerintah Daerah (Pemda) untuk memutus mata rantai penyebaran Pandemi Covid-19 selama ini. Sebagai ibu rumah tangga, dirinya sangat mendukung berbagai kebijakan dan upaya oleh pemda berupa sosialisasi, imbauan, dan bahkan hingga dikeluarkannya Peraturan Bupati (Perbup) untuk menyadarkan masyarakat agar patuh dan melaksanakan protokol kesehatan sesuai anjuran pemerintah pusat. Menurut ibu Olivia, jika masyarakat patuh dan taat sesuai aturan, imbauan, maupun sosialisasi yang diberikan selama ini, sudah pasti tidak akan ada virus corona yang masuk dan merajalela di Tanimbar. Ia berharap, ketaatan, kepatuhan masyarakat selama ini terus dipertahankan sehingga di Tanimbar tetap berada pada zona hijau. Ia bahkan menyinggung soal pemberlakuan denda atau sanksi yang tertuang dalam perbup jika kedapatan tidak menggunakan masker. Menurutnya hal itu adalah suatu kebijakan yang dapat membuat efek jera kepada masyarakat yang masih belum patuh dan taat, dan jangan sebaliknya dianggap sebagai hal yang memberatkan masyarakat.

“Kita sebagai warga harus mendukung dan taat terhadap berbagai kebijakan pemda untuk cegah virus corona dengan tetap memakai masker dan melaksanakan protokol kesehatan lainnya agar terhindar dari penyakit itu. Sudah bagus surat dari pak bupati yang saya lihat beredar di wa maupun fb itu tentang adanya denda kalau tidak pakai masker. Itu supaya kita masyarakat ini selalu ingat pakai masker dan justru itu baik,” ujar ibu Olivia.

Berbagai tanggapan dan masukan lainnya juga dilayangkan beberapa warga, salah satunya bapak Beatus Matanubun (66) dan bapak Maximus Jahangmetan yang berdomisili di wilayah Kampung Babar dan Desa Sifnana. Bapak Beatus sempat mengeluh tentang pengerjaan pembangunan saluran drainase yang belum juga tuntas serta kerusakan pada beberapa ruas jalan yang terdapat banyak lubang sana-sini. Ia mengatakan, untuk pekerjaan saluran drainase, dinilai berlarut-larut sehingga bisa saja akan berdampak pada saat tibanya musim penghujan di Kota Saumlaki nanti. Sedangkan untuk ruas jalan yang rusak, bapak Maximus mengatakan bahwa banyak lubang yang sengaja dibiarkan selama ini yang tentunya sangat berpengaruh kepada pengguna jalan, baik itu mobil maupun kendaraan bermotor. Ia berharap, pemerintah daerah dapat melihat hal tersebut sehingga masyarakat sebagai pengguna, tidak merasa resah dan bahkan bisa saja terjadi kecelakaan lalulintas akibat rusaknya jalan tersebut.

“Banyak kemajuan dan ada beberapa kekurangan juga. Misalkan, ada beberapa ruas jalan di wilayah Kota Saumlaki yang berlubang sana-sini, seperti jalan poros di sepanjang Kantor Pengadilan Negeri sampai depan pertigaan Dokter Sita dan lokasi Pasar Omele. Sebagai masyarakat, saya berharap kepada pemda untuk melihat hal ini. Bisa saja ada kecelakaan lalulintas demi ada pengendara yang menghindari lubang jalan di sana,” keluh bapak Maximus. (it-03)

Find this content useful? Share it with your friends!

Terkait

Leave a Comment

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.