Daerah Lingkungan Sulawesi Tenggara 

Kampanye Penyelamatan Selat Tiworo diluncurkan

Terumbu Karang Selat Tiworo [Coral of The World]
Terumbu Karang Selat Tiworo [Coral of The World]
Kendari, indonesiatimur.co – Kampanye penyelamatan terumbu karang di Selat Tiworo, Kabupaten Muna, Sulawesi Tenggara yang melibatkan pemerintah, lembaga swadaya masyarakat (LSM), dan masyarakat nelayan telah diluncurkan pada tanggal 8 Juni yang lalu bertepatan dengan Hari Samudera Internasional.

Terumbu karang Selat Tiworo diramalkan akan punah pada tahun 2022 bila tidak dilakukan upaya penyelamatan secara intensif. Penurunan luas terumbu karang bisa mencapai 52,87 hektar dalam setahun. Hal ini dinyatakan oleh Asisten II Setkab Muna, La Ode Bou pada acara peluncuran kampanye.

“Setiap tahun terjadi penurunan tutupan terumbu karang sebesar 1,98 persen. Jika kerusakan itu terus dibiarkan, maka diperkirakan sembilan tahun lagi atau tahun 2022, tidak akan ada lagi hamparan terumbu karang di Selat Tiworo,” ujarnya lebih lanjut.

Kampanye penyelamatan Selat Tiworo ini diprakarsai oleh Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Muna bekerjasama dengan RARE, sebuah organisasi konservasi lingkungan internasional yang mengandalkan metode pembangunan kesadaran melalui inspirasi-inspirasi. Semua kegiatan kampanye RARE yang bekerjasama dengan berbagai pemerintah di seluruh dunia diberi judul “Pride” yang berarti kebanggaan. Tujuan judul tersebut tak lain adalah membangkitkan kebanggaan masyarakat setempat terhadap spesies atau habitat yang membuat kehidupan masyarakat setempat menjadi unik, serta memberikan alternatif dan insentif bagi perubahan perilaku perusakan lingkungan.

Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Muna, La Ode Paliawaluddin menjelaskan program kampanye Pride memberikan pelatihan dan dukungan teknis bagi lembaga konservasi, untuk secara efektif mengikutsertakan masyarakat akar rumput dalam menjaga dan mengelola sumber daya alam sekitarnya.

Dia juga menjelaskan penyebab dari kerusakan utama adalah ilegal fishing dan penggunaan bahan peledak oleh nelayan. Selain itu dia juga mencurigai kapal-kapal tambang dari Bombana dan Konawe yang membuang limbah di perairan Selat Tiworo.

“Sejak dua bulan terakhir ini saya mendapatkan laporan dari masyarakat langsung bahwa ada kapal tambang yang melintas di Selat Tiworo dan membuang limbahnya dalam bentuk limbah cair, mungkin saja limbah itu sengaja dibuang atau terjadi kerusakan pada penampungan kapal tersebut, hal itu tentu memberikan dampak terhadap perkembangan tutup karang yang sedang dipeliharan di Selat Tiworo,” ungkapnya

Selat Tiworo sudah menjadi kawasan konservasi sejak tahun 2004 melalui Surat Keputusan Bupati no 157. Kawasan konservasi tersebut meliputi kawasan dengan 23 gugusan pulau tempat terumbu karang dan ikan bertelur. Pendekatan konservasi yang diambil adalah pendekatan pariwisata dengan mengedepankan kawasan pantai dengan pulau-pulau kecil yang unik dan spesisifik, mempunyai potensi mangrove, dan terdapat berbagai jenis biota khas dan endemik. (ps)

Find this content useful? Share it with your friends!

Terkait

Leave a Comment

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

Dirgahayu Kota Ambon