Ekonomi & Bisnis Maluku 

Industri Perikanan Jadi Bapak Angkat

FOTO BARUTual Keberadaan industri perikanan terpadu PT. Maritim Timur Jaya (PT MTJ) di Kota Tual, Provinsi Maluku, merupakan salah satu bukti Maluku sebagai Lumbung Ikan Nasional (LIN).

Perusahaan yang tergabung dalam Artha Graha Network dan berdiri di lahan seluas 160 Hektar ini, memiliki beberapa pabrik sepeti surimi, fishmeal (tepung ikan), ikan kering, ikan asin , budidaya, dan pengolahan rumput laut.

PT. MTJ tidak hanya  mengekspor ikan ke China, tetapi juga melakukan kegiatan jual beli ikan dan rumput laut dengan nelayan lokal yang ada di wilayah Kota Tual maupun Kabupaten Maluku Tenggara, dimana hal ini merupakan perwujudan dari hadirnya PT. MTJ sebagai bapak angkat bagi nelayan.

“Ketika sebuah industri perikanan ada, maka ia akan menjadi bapak angkat bagi nelayan disekelilingnya. Hal inilah yang MTJ lakukan,” ungkap Direktur PT MTJ, Dipa Tamtelahitu.

Tidak hanya itu, pihak perusahaan juga sangat memahami kendala transportasi yang dihadapi para nelayan yang berada jauh di pulau-pulau kecil atau memiliki letak bagan ikan yang agak jauh.

“Kami memahami akan kesulitan transportasi bagi para nelayan yang berada di pulau-pulau maupun yang letak bagannya jauh dari lokasi kami. Oleh karena itu, kami melakukan terobosan baru dengan menjemput langsung ikan maupun rumput laut ke penjualnya,” jelasnya.

Dengan kegiatan jemput langsung, lanjut Dipa, nelayan sudah sangat tertolong dimana sudah bisa menghemat biaya transportasi yang harus dikeluarkan dan juga untuk menjaga mutu ikan tetap baik.

Dipa menambahkan, selain nelayan yang diuntungkan, pihak perusahaan juga bisa memperoleh produk perikanan maupun rumput laut dalam jumlah yang besar. Kapal pengumpul juga membawa es curah yang dijual ke nelayan, agar bisa digunakan untuk menjaga mutu ikan yang didapat.

Selain membantu mengatasi kesulitan nelayan dalam masalah transportasi, kegiatan jemput langsung ini juga membantu pihak perusahaan memenuhi permintaan pasar yang cukup besar untuk rumput laut maupun ikan.

“Permintaan pasar yang cukup besar, membuat peluang bagi nelayan untuk bisa menjual produknya, seberapa banyakpun. Bahkan permintaan akan rumput laut bisa mencapai 5000 ton per bulan dan ikan sebanyak 1000 ton perbulan,” urainya.

Dipa mengatakan, saat ini PT. MTJ memiliki satu buah kapal pengumpul yang telah berlayar ke beberapa pulau seperti Kur dan Tayando, untuk membeli ikan dan rumput laut.

“Kedepan kami akan menambah jumlah dan tonase kapal pengumpul, agar bisa menjangkau pulau-pulau lainnya di Maluku,” ungkapnya.

Menurutnya, ikan yang dibeli dari nelayan kemudian diolah menjadi ikan asin, ikan kering maupun dibekukan. Sehingga pada saat musim ombak dimana nelayan tidak bisa berlayar, para nelayan dapat membeli kembali ke perusahaan dan menjualnya ke masyarakat.

“Kerjasama kami dengan nelayan memberikan keuntungan ganda bagi mereka. Sebab setelah mereka (nelayan) menjualnya kepada kami (PT. MTJ), kami akan mengolahnya menjadi ikan kering, asin atau dibekukan. Saat musim ombak dimana tidak ada ikan dipasaran, maka mereka akan membeli dari kami untuk dijual dipasaran,” tandasnya.

Lebih jauh dikatakan Dipa, para nelayan bahkan tidak hanya menjual ikan kering, ikan asin dan ikan beku kepasaran lokal didaerahnya, melainkan juga menjualnya sampai ke Papua dan Mataram.

Kegiatan jual beli ikan dan rumput laut ini, menjadikan PT MTJ sebagai pusat processing ikan. (GKS)

Find this content useful? Share it with your friends!

Terkait

Leave a Comment

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

Dirgahayu Kota Ambon