Di Manado, Moda Transportasi Ini Kini Mulai Terpinggirkan

[foto: int]
[foto: int]
Manado – Keberadaan moda transportasi tradisional Bendi di beberapa daerah termasuk di Manado Sulawesi Utara (Sulut) kini mulai terpinggirkan. Bahkan, moda transportasi yang pernah menjadi andalan pada tahun 60-an ini, kini terminalnya-pun tidak ada.

Para kusir bendi yang masih bertahan mereka mengeluh karena kini para penumpang berkurang drastis karena mereka lebih memilih moda transportasi lain yang lebih populer. Padahal biaya untuk memberi makan sapi dan perawatan bendi mereka cukup mahal.

“Sekarang saya harus keluarkan uang Rp 80 ribu untuk biaya makan dua kuda. Paling mahal adalah rumput, harganya sekarung Rp 15 ribu. Sehari saya butuh enam karung,” ujar Maikel, satu di antara kusir bendi seperti dilansir Tribun Manado, Senin (23/3).

Dengan tingginya biaya makan kuda dan biaya lain membuat pendapatan sehari-harinya tidak cukup untuk dibawa pulang.

“Sehari pendapatan bersih kami hanya Rp 60 ribu. Itu jika kami kerja dari pagi sampai sore. Kalau kami hanya kerja setengah hari, hitung saja berapa kami dapat,” terangnya.

Selain itu, dia juga mengeluhkan beberapa hambatan seperti harus selalu berhadapan dengan kemacetan.

“Kami hanya bisa beroperasi di sejumlah tempat. Di sana macet parah kerap terjadi,” jelasnya. (as)

Find this content useful? Share it with your friends!