Budaya Sulawesi Utara 

Pertahankan Budaya Balapan Sapi Minahasa Utara

[ilustrasi:int]
[ilustrasi:int]
Secara turun temurun, balapan roda sapi di Minahasa Utara dilaksanakan dari generasi ke generasi. Bahkan kegiatan tersebut telah menjadi budaya lokal di masyarakat yang masih dijungjung tinggi dan dipertahankan.

Salah seorang warga, Revol Runtukahu salah seorang pemilik sapi pacu, mengaku sudah sejak lama ia menekuni balapan roda sapi. Menurutnya hal itu dilakukan juga oleh kakek dan orangtuanya sejak dulu.

“Sekarang saya sudah 55 tahun, dulunya saya joki, kini jadi pemilik sapi pacu saja, biar joki muda yang bawa,” ujarnya seperti dikutip beritamanado.com, Kamis, (17/10).

Lebih lanjut ia menuturkan jika kebiasaannya itu sudah menjadi hobby baginya sejak kecil. Ia pun merasa senang ketika merawat sapi pacu tersebut. Ia memberi nama sepasang sapi pacunya dengan Matuari yang dibeli dengan harga Rp 40 juta dari Gorontalo.

Dalam upaya menjaga dan melestarikan olahraga lokal ini, Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Minahasa Utara, menyelenggarakan Lomba Pacuan Roda Sapi dalam rangka HUT ke-10 Kabupaten Minahasa Utara. Kegiatan tersebut dilakukan di arena pacuan roda sapi Mega Kaput, Desa Kolongan, Kecamatan Kalawat.

Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Minahasa Utara, Dra Femmy Pangkerego MPd ME mengungkapkan bahwa diselenggarakan lomba pacuan roda sapi tersebut dalam rangka menyongsong Kabupaten Minut sebagai daerah tujuan wisata 2015.

“Budaya pariwisata kita akan lebih dikenal dan wisatawan akan banyak berkunjung ke daerah ini,” ujarnya.

Lomba pacu roda sapi ini yakni dimana roda sapi ditarik dua ekor sapi yang dikendalikan oleh seorang joki. Untuk menjadi yang tercepat tentu bukan ditentukan oleh laju lari sapi, tapi butuh keahlian dari sang joki dalam mengendalikannya.

Terdapat lima kelas yang dilombakan, yaitu kelas extra atau kelas pemula untuk 100 meter, kelas pernah pacu untuk 100 meter, kelas 150 meter, kelas 200 meter dan kelas 250 meter atau disebut top kelas.

Adapun waktu lombanya berlangsung selama tiga hari “Lomba berlangsung selama tiga hari (14-16/10), untuk finalnya, pemenang akan mendapat seekor sapi,” pungkas Dra Femmy.

Find this content useful? Share it with your friends!

Terkait

Leave a Comment

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

Dirgahayu Kota Ambon