Nasional Opini 

Apakabar Pancasila

Ketika Pancasila jadi iklan radio.

Tulisan ini dibuat sebagai kenangan pada sahabatku almarhum Roch Basoeki Mangoenpoerojo yang sepanjang persahabatan kami tak henti hentinya membicarakan tentang keprihatinannya pada kehidupan berbangsa dan bernegara Indonesia yang semakin jauh dari bayangan kebudayaan negerinya.*

Oleh: Slamet Rahardjo Djarot.**

Advertisements

Saya tidak tahu, apakah almarhum sempat mendengar siaran radio yang secara terus menerus memperdengarkan suara rakyat dari segala usia dan jenis kelamin membacakan dengan lantang kelima sila Pancasila. Saya sangat yakin almarhum akan bertanya pada saya tentang kebijakan memasyarakatkan Pancasila dengan pola iklan dari sudut pandang seorang seniman. Tetapi sampai akhir hayatnya, almarhum tidak pernah atau belum sempat mempertanyakan masalah ini karena menurut saya kehadiran “iklan” Pancasila ini perlu dicermati karena terkesan bangsa ini kehilangan sesuatu dan untuk menemukannya kembali perlu dimasyarakatkan secara gencar. Yang membuat masalah ini menjadi semakin penting untuk dikaji karena sponsornya adalah salah satu institusi dari penyelenggara pemerintahan.

 

APA KABAR PANCASILA?

Kabar baik atau kabar yang memprihatinkan karena pada kenyataannya Pancasila telah sangat jauh ditinggalkan oleh pola pikir dan gaya hidup sebagian besar masyarakat khususnya yang tinggal di kota-kota besar. Pancasila yang telah disepakati sebagai Falsafah Dasar Negara yang mengarahkan bangsa Indonesia berjiwa besar dan pandai berterimakasih karena menghormati Sang Pencipta, Alam dan Sesama, saat ini telah meluntur dan nyaris hilang karena pada kenyataannya bangsa ini belum siap menerima “Langkah Besar” Negara-Negara Adhidaya yang menawarkan kebijakan Go-Global. Bangsa ini belum lagi melangkah untuk melakukan Go-Nusantara, sehingga ketika secara “mau tidak mau” dan “apa boleh buat” kebijakan global itu diterima, maka kekuatan budaya bangsa yang terkandung dalam Kearifan Lokal Nusantara tersingkir karena dunia hanya diwarnai satu warna budaya. Pasar Bebas, Persaingan Terbuka mempertontonkan hukum rimba karena tak lagi mengenal makna keseimbangan dalam persaingan. Falsafah Gotong-Royong yang mewarnai semangat persatuan bangsa, menyublim digantikan dengan pola pikir liberal yang mengedapankan kepentingan Individu dalam bentuk pribadi atau golongan. Mengedepankan kepentingan golongan ini tergambar dari pemilihan para wakil rakyat di Dewan Perwakilan Rakyat. Pribadi-pribadi yang menjadi wakil rakyat koridor masuknya, menurut Undang-Undang harus melalui partai.

Dengan bantuan partai yang mengerahkan massanya, pribadi-pribadi tersebut terpilih karena memiliki jumlah suara terbanyak. Hal ini menarik karena wakil rakyat terpilih berkat jumlah suara terbanyak dan bukan karena kader yang terbaik. Apalagi partai partai yang ada sebagian besar bukanlah partai-kader. Jika sampai saat ini kinerja wakil rakyat masih jauh dari harapan, karena pada dasarnya mereka hanyalah pribadi yang berani tampil, memiliki dana kampanye yang cukup dan mendapat restu partai. Kenyataan ini sangatlah masuk akal jika wakil rakyat terpilih tersebut akan memberi perhatian khusus pada partainya.

Dengan demikian istilah Wakil Partai akan lebih masih menjadi sasaran empuk kritik rakyat karena mereka bukan yang terbaik. Partailah yang membantu mereka dan untuk itu masuk akal jika mereka lebih memperjuangkan kepentingan partai dibanding kepentingan rakyat. Indonesia yang berfalsafah dasar Pancasila dimerdekakan berdasarkan Kedaulatan Rakyat ini tidak mungkin dipahami oleh pribadi yang berdaulat pada kepentingan golongan dan partai. Istilah Petugas Partai lebih memberi penekanan bahwa mereka memang bukan wakil rakyat.

Kedaulatan Rakyat berarti semua supremasi kepentingan ipoleksosbud harus daulat rakyat. Sebagai contoh yang memprihatinkan adalah Supremasi Hukum dan Ekonomi sangat tidak Daulat Rakyat. Tindak manipulasi dan korupsi menjadi akibat karena segala kepentingan hanya menguntungkan pribadi dan golongan.

Kenyataan ini meberi keyakinan pada saya untuk percaya bahwa kekisruhan kehidupan berbangsa dan bernegara saat ini sebabnya adalah kurangnya penghargaan atas makna kebudayaan. Kebudayan dikerdilkan maknanya hanya sebatas Seni Budaya padahal kebudayaan merupakan acuan dasar penentuan segala brentuk dan jenis budi-daya kegiatan kehidupan masyarakat dan bangsa sesuai letak geografis yang memiliki adat kebiasaan yang khas. Selama beberapa decade ini, globalisasi telah membuktikan telah mengebiri kebudayaan bangsa bangsa di dunia.

Lalu bagaimana untuk bangsa ini keluar dari dosa mereka pada Kebudayaan

REVOLUSI MENTAL! itulah kebijakan yang dilontarkan oleh pimpinan Negara berdasarkan kenyataan bahwa mental bangsa telah ambruk. Jiwa Pancasila telah terpinggirkan. Kebhinekaan goyah karena toleransi beragama menipis. Menghormati sesama berganti menjadi menghianati sesama melalui tindak korupsi dan manipulasi. Kebijakan Revolusi Mental lahir dari kerendahan hati, kebesaran hati dan keluasan pikiran untuk secara jujur mengoreksi jati diri. Ini langkah luar biasa. Tetapi sayangnya, kurang effektifnya kebijakan tersebut dilontarkan tanpa hantaran naskah akademik yang rinci dan memberi arah tentang juklkak dan juknisnya secara terukur, terstruktur dan terpadu. IKLAN PANCASILA adalah buktinya. Menegakan kembali Pancasila dilaksanakan secara acak dan histeris dan terkesan dangkal.

Mas Roch Basoeki di alam sana…

Andaikata kamu masih ada pasti kita telah duduk di satu meja untuk secara intensif membantu pimpinan Negara menterjemahkan Revolusi Mental tidak hanya hadir sebagai wacana. Kedudukan ndan posisi kita sama. Kita hanya rakyat yang mencintai negerinya dan hanya mampu membuat karya-karya nyata tentang kecintaan pada bangsa seukuran kemampuan yang ada.
Mas Roch Basoeki, tulisan ini hanya sebuah gerenengan pikiran. Semoga tulisan ini dapat ikut mengisi halaman buku memoirmu yang mudaha-mudahan bermanfaat untuk sebuah bacaan dikala senggang,
Merdeka !!!

Bintaro 12 Mei 2016
Sahabatmu
Slamet Rahardjo Djarot.

 

Catatan:

*Tulisan ini merupakan sumbangan tulisan pada sebuah buku untuk memperingati 100 hari wafatnya penasehat indonesiatimur.co, mendiang S Roch Basoeki Mangoenpoerojo. Sekaligus juga menjadi bahan refleksi pembaca di hari lahirnya Pancasila (1 Juni).

** Slamer Rahardjo Djarot adalah Budayawan, Aktor, Sutradara, dan Penulis.

Comments

comments

Terkait

Komentar anda:

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.