Lingkungan Maluku 

Ternak Mati Di Buru Akibat Sianida

Ambon, indonesiatimur.co – Pengaruh merkuri tidak dirasakan saat ini, tetapi butuh waktu 10 tahun kedepan. Hal ini diungkapkan peneliti DR Justinus Male, yang juga seorang dosen di Fakultas MIPA Universitas Pattimura Ambon. “Merkuri tidak mematikan dalam waktu singkat. Dampaknya baru nyata kurang lebih 10 tahun kedepan,”jelasnya pada Selasa (20/3).

Oleh karena itu, dirinya menegaskan bahwa ternak yang mati di Pulau Buru saat ini, bukan karena pengaruh merkuri, tetapi karena sianida. Karena sejak ditutupnya pertambangan rakyat dan dibersihkannya jalur sungai oleh pemerintah, masyarakat membawa material emas ke rumah dan kemudian diolah dipekarangan. “Ternak yang mati di Buru saat ini, disebabkan katena sianida. Mereka mulai mengolah emas dengan menggunakan sianida. Tetapi karena pengolahan dengan istilah rendaman ini tidak dibekali dengan pengetahuan yang benar, menyebabkan adanya kebocoran. Kebocoran ini yang merembes ke tanah dan air yang kemudian diminum oleh ternak, dan akhirnya ternak itu mati,”urainya.

Advertisements

Walau demikian, dirinya menyatakan bahwa dampak merkuri di Buru sebenarnya telah ada sejak 2012. Bahkan saat ini kerusakan lingkungan akibat adanya merkuri di sekitar Gunung Botak, Sungai Anahoni, Waipo, Wailata dan Sungai Kayeli sudah melebihi ambang batas. “Merkuri itu lebih berat 100 kali dari air. Sehingga dia berada dibagian bawah atau endapan. Nah yang ada di Pulau Buru, hilir Sungai Kayeli itu terdapat mangrove yang menahan endapan lumpur. Disanalah merkuri berada. Apalagi mangrovenya cukup banyak dan tertutup matahari. Di tempat itulah bekembang biak biota laut yang merupakan rantai makanan dari ikan di laut,”ungkapnya.

Dirinya mengakui telah mengambil sample rambut masyarakat di Buru, dan hasilnya menunjukkan bahwa masyarakat telah terpapar merkuri. Demikian juga dengan sampel ikan. “Kita harus Segera menghentikan penggunaan merkuri. Karena dia seperti bom waktu dan bisa meledak dan memberi dampak seperti di Minamata Jepang, dimana nantinya ditemukan penduduk yang sakit-sakitan, menderita gangguan saraf motorik, bayi lahir cacat dan berbagai macam kecacatan lainnya,”ujarnya.

Sebagai peneliti, dirinya membutuhkan penelitian sistematis untuk menentukan spot-spot dengan konsentrasi merkuri tertinggi,sehingga bisa melakukan pencegahan yang tepat sasaran.
Dirinya mengingatkan, agar tidak terkena efek merkuri yang telah masuk ke laut, maka ketika mengkonsumsi ikan, jangan memakan bagian kepala, tulang dan bagian perut. (it-01)

Find this content useful? Share it with your friends!

Terkait

Leave a Comment

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.