Maluku Profil 

Beranjak Dari Keinginan Makan Hosti Besar, Antarkan Erol Ohoduan  Terima Panggilan Imam

Saumlaki, indonesiatimur.co– Ini  cerita masa kecil dari seorang anak kampung di Pulau Fordata. Erol Markus Ohoduan, begitulah nama yang diberikan orang tuanya ketika Erol kecil lahir di Desa Sofyanin, 15 Mey 1993. Menghabiskan masa kanak-kanaknya di desa yang kini berjuluk “Kampung Kelapa Berbuah Gen”. Kala duduk di bangku pendidikan dasar kelas II SD Inpres Sofyanin, ibunda Afra Ohoduan, mengajaknya ke gereja untuk mengikuti misa Ekaristi yang saat itu dipimpin langsung oleh Pastor Gerardus Ohoduan, yang tak lain adalah pamannya sendiri.

Dari situlah, Erol sapaan akrabnya, mulai merasa tertarik terhadap sosok sang pastor. Alasan yang paling mendasar, dia ungkapkan adalah ingin makan Hosti besar seperti yang di makan sang paman.

Advertisements

“Motivasi saya masuk seminari karena inggin makan Hosti besar seperti yang dimakan om Pastor Gerry,” ungkapnya dalam homili saat memimpin misa pertamanya pada hari Minggu ketiga Prapaskah di Gereja St. Mikhael Sofyanin, Kecamatan Fordata, Kabupaten Kepulauan Tanimbar, Minggu 7 Februari 2020.

Alhasil, pasca menamatkan sekolah dasarnya di desa kelahirannya, Romo Erol, melanjutkan pendidikan pada SMP Seminari SYF di Saumlaki, kemudian lanjut ke jenjang SMA Seminari St.Yudas Thadeus Langgur. Menjalani tahun rohani di Tateli-Manado selama setahun, dan kemudian selama empat tahun dirinya menempuh pendidikan S1 pada Sekolah Tinggi Filsafat Pineleng. Belum cukup sampai disitu, dirinya harus menjalani masa pastoral setahun di seminari Langgur. Kemudian selama dua tahun belajar lagi di Seminari Tinggi Poka St.Fransiskus Xaverius. Kemudian dirinya menjalani masa diakonal setahun setengah sebagai Sekretaris Pribadi (Sespri) Uskup Diosis Amboina Mrg.Petrus Canisius Mandari, Msc. Dan pada akhirnya pada Sabtu, 20 Februari 2021, di Gereja Katedral St.Fransiskus Xaverius Ambon, RD. Erol Ohoduan, bersama dengan tiga Diakon lainnya menerima Tahbisan Imamat oleh Uskup Mandagi.

“17 tahun saya habiskan waktu dalam pendidikan. Waktu yang cukup panjang dan penuh tantangan,” ujarnya yang disambut tepuk tangan umat.

Kisah lainnya yang Ia ceritakan, ketika berada di kelas 5 SD, sekolahnya kedatangan seorang guru dari ibu kota Kecamatan Tanimbar Utara, Larat. Dengan pernyataan keras dari sang guru saat itu kepada para siswa bahwa pendidikan di desa asalnya sangatlah tertinggal. Menurut guru tersebut, juara 1 di Desa Sofyanin, sama dengan juara terakhir di  SD St.Theresia Larat

“Karena saya juara 1, maka saat itu saya sangat tersingung. Tetapi perkataan itu memotivasi saya dan dalam hati saya katakan, suatu saat saya akan buktikan bahwa desa kami tidak tertinggal dalam hal pendidikan,” tandasnya yang disambut tepuk tangan meriah oleh semua yang hadir dalam perayaan misa tersebut.

Cerita belum berakhir sampai disitu, Romo Erol yang memiliki Motto “Kasih Setia Tuhan Hendak Ku Nyanyikan Selama-lamanya (Mzm 101:1)”, melanjutkan kisahnya dibangku pendidikan seminari. Dulu pikirnya menjadi seorang Pastor atau Imam itu hanya tugasnya memimpin misa dan berkhotbah. Namun apa yang dipikirkan sangat berbanding terbalik dari apa yang dialaminya. Kembali dia mengingat kala duduk dibangku SMP seminari, dirinya bersama rekan-rekan seangkatan pergi hadiri acara HUT, mereka begitu antusias, sebab yang ada dibenak adalah bisa memakan makanan enak, mengingat makanan diseminari rasanya seperti sayur tanpa garam.

“Waktu kami pulang dari HUT, kami semua dipanggil oleh Pastor dan disuruh berlutut sampai jam 3 subuh. Pikir sudah selesai, eh masih lanjut lagi masuk kapel jam 5 subuh tidak boleh terlambat. Tak cukup sampai disitu, kami harus berjalan dengan lutut dijalan setapak seminari yang rusak parah. Lutut kami hancur semua. Kemudian kami disuruh makan bubur pakai mulut. Habis itu masih harus mencuci pakaian kotor anak-anak asrama yang berjumlah 6 karung,” kenangnya yang menambahkan kalau dirinya inggin pulang ke rumah ibunya ketimbang bertahan di Seminari.

Belum lagi pernah dituduh mencuri uang salah seorang Pastor senilai Rp5 juta waktu duduk di bangku SMP. Kemudian dituduh lagi curi uang Rp2,5 juta dari Pastor semasa jadi Frater. Tuduhan terakhir sangatlah beralasan karena dirinyalah yang memegang kunci. Kalimat yang sangat menyakiti hatinya adalah ketika Pastor sampaikan bahwa “kalau pencuri, Erol tidak punya tempat di sini (Seminari). Pulang saja ke rumah sendiri”. Dan peristiwa ini membuatnya sangat terpukul.

“Saat itu saya sangat sedih. Saya menangis di Arca Bunda Maria, tanpa berkata-kata di depan Arca, hanya air mata saja yang keluar. Bahkan saya diminta bersumpah dengan Alkitab. Tetapi kemudian jalan Tuhan, kami tahu siapa yang ambil uang-uang itu,” ujarnya.

Dari pengalaman-pengalaman tersebut, dirinya menyadari bahwa Tuhan sangat mengenalnya. Karena Tuhan tahu kapan waktu yang tepat dirinya membutuhkan Tuhan. Tuhan lebih mengenal dirinya. Romo Erol menjalani semua itu sampai akhirnya dia bisa berdiri di Altar gereja memimpin misa dihadapan semua masyarakat Sofyanin dan sekitarnya. Itu semua karena kasih Tuhan untuk dirinya.

Sebelum mengakhiri refleksi imannya, Romo Erol sampaikan rasa terima kasihnya kepada masyarakat dan desanya tercinta. Karena menurut dia, di desa inilah dirinya diajarkan tentang iman katolik yang kokoh dan militan.

“Saya berterima kasih kepada masyarakat dan desa tercinta ini yang sudah ajarkan saya tentang iman katolik “lewat depan gereja harus tanda salib, rajin ibadah pagi”. Dan juga saya sampaikan terima kasih untuk keluarga karena dengan tulus hati sudah serahkan saya pada Tuhan dan gereja. Terima kasih untuk keiklasana hati dan doa kalian semua,” ucapnya. (it-03)

Terkait

Leave a Comment

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar anda diproses.