AgendaMaluku

Tingkatkan Pengetahuan dan Ketrampilan Masak, Widya Pratiwi Buka Festival Cipta Menu B2SA

Ambon, indonesiatimur.co– Ketua TP-PKK Provinsi Maluku, Widya Pratiwi Murad, membuka Festival Cipta Menu Beragam Bergizi Seimbang dan Aman (B2SA) Berbasis Pangan Lokal untuk Generasi Emas dan Lomba Masak Serba Ikan Tahun 2023 di Warung Katong, yang merupakan rangkaian kegiatan Jambore PKK Provinsi Maluku Tahun 2023, Jum’at, (06/10/2023).
Kedua kegiatan ini diikuti TP-PKK kabupaten/kota se-Maluku.

Dalam sambutannya, Ketua TP-PKK Provinsi Maluku, Widya Pratiwi Murad, menyambut baik dan memberikan apresiasi atas terselenggaranya kedua kegiatan ini, dalam rangka meningkatkan pengetahuan dan keterampilan memasak dengan memanfaatkan olahan pangan lokal menu makanan sehari-hari masyarakat.

Menurutnya, pangan lokal sebagai sumber gizi tentunya menjadi upaya mencegah terjadinya Stunting. Olehnya itu, Widya mengapresiasi kerja keras semua pihak dalam menurunkan angka Stunting di Maluku yang mana di tahun 2018, Maluku mencatat angka Stunting sebesar 34,02 persen dan di tahun 2019 sebesar 30,38 persen dan mengalami penurunan signifikan sebesar 28,7 persen di tahun 2021 dan di tahun 2022 sebesar 26,1 persen.

“Salah satu upaya yang dapat dilakukan dalam peningkatan mutu generasi emas adalah melalui pola konsumsi pangan yang berkualitas yakni Beragam, Bergizi, Seimbang dan Aman (B2SA),” kata Widya.

Widya berharap kedua kegiatan itu mempu menumbuhkan minat masyarakat untuk mengolah potensi bahan pangan lokal menjadi pangan yang sehat dan aman, dengan komposisi gizi yang seimbang serta berkontribusi terhadap pencegahan Stunting.

Pada acara pembukaan, hadir pula Deputi Konsumsi dan Keamanan Pangan Badan Pangan Nasional, Andriko Noto Susanto.

Dalam sambutannya, Susanto katakan, tidak ada alasan yang dapat dibenarkan untuk adanya stunting di Indonesia atau di mana pun. Stunting adalah masalah serius yang dapat menghambat pertumbuhan fisik dan perkembangan anak-anak, berdampak buruk pada kesehatan mereka dan memengaruhi potensi masa depan mereka. Untuk mengatasi stunting, penting untuk melakukan upaya kolaboratif yang melibatkan pemerintah, masyarakat dan organisasi kesehatan guna memastikan nutrisi yang cukup, akses ke layanan kesehatan yang berkualitas serta penyuluhan gizi yang baik bagi anak-anak.

“Kepala Badan Pangan Nasional pernah mengatakan, sebenarnya kita tidak punya alasan sedikitpun untuk ada Stunting di Indonesia. Hal ini dikatakan setahun lalu setelah menghadiri undangan pak Gubernur Murad Ismail, di Festival Sagu dalam rangka memecahkan rekor MURI di Lapangan Merdeka,” katanya.

Menurut Susanto, untuk meningkatkan kepedulian terhadap anak-anak dan mencegah keluarga stunting selanjutnya, ada beberapa langkah-langkah yang dapat diambil seperti penyuluhan tentang pentingnya gizi yang seimbang dan perawatan anak sejak dini harus ditingkatkan di tingkat masyarakat, akses ke pelayanan kesehatan, memastikan akses ke makanan bergizi bagi semua anggota keluarga, pendekatan komprehensif seperti kerjasama antara pemerintah, LSM dan sektor swasta yang merupakan kunci dalam mengatasi stunting. Kemudian membuat sistem pemantauan dan pelaporan yang kuat untuk mengukur kemajuan dan mengidentifikasi daerah-daerah yang masih memiliki masalah stunting, juga melibatkan masyarakat secara aktif dalam upaya ini. Ditambah pelaksanaan kampanye kesadaran publik melalui media sosial, televisi dan kegiatan komunitas. Dan yang terakhir adalah meningkatkan pelatihan bagi tenaga kesehatan dalam mendeteksi dan mengatasi stunting sejak dini.

“Hanya ada dua persoalan. Pertama adalah pola asuh. Kedua, pemberian ASI eksklusif ibu kepada anak. Dua poin itu, karena kalau sumber pangan tidak ada yang kurang. Dibuktikan pada saat itu kita memecahkan rekor MURI,” ujarnya.

Diakhir sambutannya, Susanto menilai, mengembangkan dan mempromosikan pangan lokal nusantara adalah langkah yang sangat penting untuk mewujudkan konsumen pangan B2SA (Baik, Bergizi, Aman, Seimbang, dan Terjangkau). Dalam hal ini, pemerintah, petani dan produsen, pasar dan pengecer, pendidikan dan kampanye, organisasi masyarakat, pendidikan gizi, inovasi dan kerjasama regional dapat berperan dalam upaya ini.
Menggandeng seluruh stakeholder dengan tujuan bersama untuk memajukan pangan lokal nusantara akan membantu mencapai konsumen pangan B2SA, menciptakan ketahanan pangan dan mendukung pertumbuhan ekonomi lokal.

“Jadi mari kita siapkan generasi muda menyongsong Indonesia Emas 2045. Saya mengajak seluruh stakeholder untuk mengembangkan dan mempromosikan pangan lokal nusantara untuk mewujudkan konsumen pangan B2SA dengan tiga langkah sederhana. Pertama, cintai dan pilihlah tangan lokal nusantara sebagai menu sehari-hari. Kedua, konsumsi aneka ragam pangan porsi yang cukup. Ketiga, selalu pastikan bahan pangan aman sebelum di konsumsi,” tutup Susanto.

Sebagai informasi, kedua kegiatan ini diselenggarakan Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Maluku dan Dinas Ketahanan Pangan Provinsi Maluku, dalam rangka mendukung program nasional Gerakan Memasyarakatkan Makan Ikan (Gemarikan), sekaligus memperkuat sistem ketahanan pangan lokal.

Lomba ikan bertujuan untuk memperkenalkan ragam menu dan masakan berbahan baku ikan, mendukung pemanfaatan sumber daya ikan yang berkelanjutan untuk kesejahteraan masyarakat dan meningkatkan konsumsi masyarakat terhadap ikan lokal.

Sedangkan, Festival Cipta Menu B2SA Berbasis Pangan Lokal bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan ibu PKK didalam melakukan inovasi pengolahan dan penyajian pangan lokal bagi keluarga 1000 Hari Pertama Kehidupan (HPK) secara tepat dan benar memenuhi unsur beragam, bergizi, seimbang dan aman, serta mendorong kemajuan pengolahan pangan lokal yang sehat, enak dan aman bagi anak.

Lomba Masak Serba Ikan tingkat Provinsi Maluku yang mengusung tema “Ikan Untuk Generasi Emas” itu, diselenggarakan Dinas Kelautan Perikanan Provinsi Maluku dengan menghadirkan Artati Widiarti dari Kementerian Kelautan dan Perikanan, F. Rieuwpassa dari Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Pattimura (Unpatti) Ambon, Horib dari Dinas Kesehatan Provinsi Maluku dan Els Aunanal dari SMK 5 Ambon dan Ngadirin dari Santika Hotel sebagai dewan juri.

Sedangkan, Festival Cipta Menu Beragam Bergizi Seimbang dan Aman (B2SA) yang mengusung tema “Karena Semua Anak di Maluku Berharga”, diselenggarakan Dinas Ketahanan Pangan Provinsi Maluku, dengan menghadirkan Rina Syawal dari Bapanas, Horib dari Dinas Kesehatan Provinsi Maluku dan Theny Barlola dari Pengurus Persatuan Hotel Republik Indonesia Maluku sebagai dewan juri.

Turut hadir dalam acara pembukaan, Sekretaris Daerah Provinsi Maluku, Sadali Ie, Kepala Dinas Ketahanan Pangan, Jais Ely, Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan, Irawan Asikin, Pengurus TP-PKK Pemerintah Maluku dan Kabupaten/Kota se-Maluku. (it-02).

Bagikan artikel ini

Related posts

Komentar anda:

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.