SAPA-BINA Lapas Wahai, Inovasi Jemput Bola Layani Kesehatan Warga Binaan
Wahai, indonesiatimur.co – Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas III Wahai terus tingkatkan mutu pelayanan publik dan pemenuhan Hak Asasi Manusia (HAM). Salah satunya diwujudkan melalui pemaparan inovasi Sinergi Aksi Pelayanan Aktif bagi Warga Binaan (SAPA-BINA) dalam forum Community of Practice (CoP) yang diikuti jajaran Pemasyarakatan se-Maluku secara daring, Jumat (11/09/2026).
Kegiatan CoP diawali dengan opening remarks dari Kepala Kantor Wilayah (Kakanwil) Direktorat Jenderal Pemasyarakatan Maluku, Ricky Dwi Biantoro. Dalam sambutannya, Ricky tegaskan pentingnya perubahan paradigma pelayanan di jajaran Pemasyarakatan agar lebih responsif dan berorientasi pada kebutuhan Warga Binaan.
“Pelayanan Pemasyarakatan saat ini harus mampu bertransformasi dari pola lama yang reaktif menjadi lebih proaktif. Inovasi SAPA-BINA yang digagas Lapas Wahai merupakan contoh nyata bagaimana keterbatasan sarana dan sumber daya manusia (SDM) dapat diatasi melalui kolaborasi serta pendekatan pelayanan langsung ke Warga Binaan. Kami berharap forum CoP ini menjadi wadah untuk saling berbagi inspirasi dan sharing knowledge,” ujar Kakanwil.
Sementara itu, dalam sesi pemaparan CoP, Kepala Lapas Wahai, Tersih Victor Noya, menjelaskan latar belakang lahirnya inovasi SAPA-BINA. Menurutnya, masalah kelebihan kapasitas hunian dapat berdampak pada kondisi kesehatan, mulai dari penurunan kualitas sanitasi dan sirkulasi udara yang kurang memadai hingga risiko penyebaran penyakit menular.
“Pengalaman kami menunjukkan bahwa ketidakseimbangan kapasitas hunian berdampak langsung pada kualitas kesehatan Warga Binaan. Di sisi lain, keterbatasan rasio petugas pengamanan menjadi tantangan tersendiri jika harus sering mengawal Warga Binaan ke luar Lapas. Karena itu, kami mengubah paradigma pelayanan yang tidak lagi sekadar reaktif menunggu keluhan di klinik, melainkan proaktif jemput bola mendatangi kamar-kamar hunian,” ungkap Tersih.
Menurutnya, inovasi SAPA-BINA memiliki tiga pilar utama dalam implementasinya, yakni sinergi lintas sektor, aksi jemput bola, dan digitalisasi data.
“Semuanya kita bangun melalui kemitraan dengan Puskesmas setempat untuk melakukan pemeriksaan medis secara inklusif, serta pencatatan hasil skrining untuk memetakan tren kesehatan Warga Binaan, termasuk membentuk dan melatih perwakilan Warga Binaan sebagai Kader Kesehatan di setiap kamar,” jelasnya.
Di akhir pemaparannya, Tersih menambahkan bahwa inovasi SAPA-BINA tidak hanya berdampak pada kondusivitas keamanan dan efisiensi pengawalan, tetapi juga mendukung program strategis pemerintah dalam Asta Cita. Pada aspek HAM dan demokrasi, inovasi ini mendukung jaminan hak konstitusional dan P2HAM Warga Binaan atas layanan kesehatan tanpa diskriminasi. Pada aspek sistem keamanan, SAPA-BINA turut menjaga stabilitas Lapas dengan menekan potensi konflik akibat masalah kesehatan. Sementara pada aspek SDM dan reformasi birokrasi, inovasi tersebut mendorong institusi Pemasyarakatan yang lebih proaktif.
Pemaparan inovasi SAPA-BINA mendapat tanggapan dan apresiasi dari peserta CoP, salah satunya disampaikan oleh dr. Ricky Arisandy dari Lapas Ambon.
“Inovasi SAPA-BINA yang digagas Lapas Wahai dan jajaran sangat luar biasa dan patut diapresiasi. Pendekatan jemput bola langsung ke kamar hunian serta keterlibatan kader kesehatan dari Warga Binaan merupakan solusi cerdas dalam menangani kendala deteksi dini penyakit di Lapas. Langkah digitalisasi data medisnya juga memudahkan pemantauan grafik kesehatan secara real-time,” tuturnya dalam sesi diskusi CoP.
Melalui forum CoP ini, diharapkan inovasi SAPA-BINA ala Lapas Wahai dapat menjadi inspirasi bagi jajaran Pemasyarakatan Maluku dalam menghadirkan layanan kesehatan yang lebih responsif, humanis, dan berdampak bagi Warga Binaan. (it-06)


