Daerah Ekonomi & Bisnis IpTek Maluku Maluku Utara Papua Papua Barat 

Menristek Canangkan Program IpTek di Koridor Ekonomi 6

Papua dan Kepulauan Maluku merupakan koridor ekonomi 6 dalam rencana induk percepatan dan perluasan pembangunan ekonomi Indonesia (MP3EI).

Sehingga untuk mendukung dan mengimplementasikan program-program unggulan berbasis komoditas di dua daerah ini, Menteri Negara Riset dan Teknologi Gusti Muhammad Hatta, Selasa (17/7) mencanangkan Program Iptek di koridor Ekonomi Papua Kepulauan Maluku yang berlangsung di Islamic Center Ambon.

Menurut Hatta, Pencanangan itu dilakukan di koridor ekonomi Papua-Kepulauan Maluku, sebagai pusat pengembangan pangan, perikanan, energi, dan pertambangan.

Secara umum Papua dan kepulauan Maluku memiliki potensi sumber daya alam yang melimpah, namun di sisi lain terdapat beberapa masalah yang harus menjadi perhatian dalam upaya mendorong perekonomian di wilayah ini.

Berdasarkan produk Domestik Bruto (PDBR) di wilayah Maluku dan Papua dari tahun 2006 2009 lebih rendah dibandingkan daerah lain, meskipun laju pertumbuhan PDRB relative tinggi yakni sebesar 7 persen.

Menurut Menristek, investasi di Maluku dan Papua juga rendah akibat minimnya penerapan ilmu pengetahuan dan teknologi sehingga resiko usaha juga rendah. Selain itu produkstivitas di sektor pertanian juga belum optimal akibat keterbatasan sarana pengairan dan infrastruktur. Permasalahan ini yang menjadi perhatian dalam mendorong perekonomian di kedua wilayah ini.

Sementara konesp MP3EI sendiri berasumsi bahwa kawasan ini secara relatif kurang terhubung (disconnect) secara informasi dan itulah yang menyebabkan investasi masih rendah karena minimnya informasi mengenai potensi investasi itu sendiri. Tentunya bukan Menristek ataupun Menko Ekonomi yang lebih mengerti, melainkan warga dan segenap stakeholders lainnya yang lebih paham untuk pembangunan kawasan mereka.

Upaya peningkatan kemampuan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (Iptek) nasional menjadi penting dari salah satu strategi Mastreplan Percepatan dan Perluasan Ekonomi Indonesia (MP3EI) 2011-2015, yaitu dalam hal penguasaan iptek untuk mendukung peningkatan inovasi yang bermanfaat bagi pengembangan ekonomi bangsa.

Berdasarkan dokumen MP3EI pengembangan program pembangunan Indonesia dibagi menjadi 6 koridor, meliputi koridor ekonomi Sumatera, Koridor Ekonomi Jawa, Koridor Ekonomi Kalimantan, Koridor Ekonomi Sulawesi, Koridor Ekonomi Bali Nusa Tenggara dan Koridor Ekonomi Papua Kepulauan Maluku.

Sesuai dengan potensi unggulannya, Koridor Ekonomi Papua Kepulauan Maluku merupakan pusat pengembangan pangan, perikanan, energy dan pertambangan nasional. Strategi pembangunan ekonomi Koridor Ekonomi Papua Kepulauan Maluku difokuskan pada 5 kegiatan Ekonomi utama, yatu pertanian Pangan MIFEE (Merauke Integrated Food & Energy Estate), Tambang, Nikel, Migas, dan Perikanan.

Pencanangan yang dilakukan Menriset ini bertujuan untuk mengkoordinasikan dan mengkonsolidasikan sumber daya iptek dalam mengembangkan pusat ekonomi berbasis potensi daerah yang dapat memberikan nilai tambah di bidang pangan, pertambangan dan migas serta kelautan dan perikanan.

Pelaksanaan kegiatan riset di koridor ekonomi Papua dan kepulauan Maluku diselaraskan dengan kegiatan-kegiatan ekonomi utama atau komoditas unggulan di wilayah yang bersangkutan. Model pembiayaan pelaksanaan riset ini dilakukan melalui insentif  penelitian yakni insentif Peningkatan kemampuan Peneliti dan Perekayasa (PKPP), Insentif Sistem Inovasi Nasional (SINAS) dan Insentif Diseminasi Teknologi Spesifik Lokasi (Speklok).

Pelaksanaan kegiatan riset di koridor ekonomi Papua dan Kepulauan Maluku diselaraskan dengan kegiatan-kegiatan utama atau komoditas unggulan di wilayah yang bersangkutan.

Seluruh kegiatan iptek yang dilakukan pemerintah di koridor 6 mencapai 109 judul kegiatan penelitian dengan jumlah total dana sebesar Rp 31 milyar.

Kegiatan iptek terbanyak berada di provinsi Papua senilai Rp 14,8 milyar disusul Maluku sebesar Rp. 6,1 milyar, Papua Barat sebesar Rp. 5,8 milyar dan Maluku Utara sebesar Rp. 4,1 milyar.

Sementara, salah seorang redaksi Indonesia Timur yang juga pemerhati ekonomi pembangunan mengomentari bahwa pencanangan program Iptek tersebut lebih berorientasi pada potensi sumber daya alamnya saja dan sangat tidak memperhatikan aspek budaya, politik dan sosio-ekonomi masyarakat setempat yang sejatinya dapat mempercepat proses pembangunan yang bersandar pada kemandirian masyarakat.

Bagaimana menurut anda? Anda sudah pernah atau berminat berinvestasi di kawasan ini? (bm 10/ps)

Find this content useful? Share it with your friends!

Terkait

Leave a Comment

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

Dirgahayu Kota Ambon