Maluku Politik 

Pengamat Politik: Pemilu di Maluku Diwarnai Manipulasi

[ilustrasi]
[ilustrasi]
Ambon – Pemilihan Umum legislatif 9 April kemarin diduga banyak diwanai dengan manipulasi. Aksi tersebut ada yang dilakukan calon legislatif maupun aparat penyelenggara. Hal itu diungkapkan oleh pengamat politik Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Pattimura (Unpatti) Amir Kotamoralus.

Amir mengatakan, manipulasi politik ini menyebabkan semakin tercorengnya demokrasi di Maluku. Selain itu, berbagai kecurangan juga terjadi dalam pelaksanaan pemilihan umum legislatif (Pileg) tersebut.

Advertisements

“Ini bukan saja merupakan tanggung jawab aparat penyelenggara dalam hal Komisi Pemilihan Umum (KPU) tetapi juga pemerintah daerah (pemda) baik tingkat provinsi maupun kabupaten/kota,” katanya, seperti dikutip siwalimanews, Kamis (17/4).

Menurut Amir, pemda seharusnya bertanggung jawab dari sisi anggaran, yang bisa membantu aparat penyelenggara untuk melakukan sosialisasi dan bimbingan teknis kepada KPPS, PPS dan PPK. Hal itu karena banyaknya pelanggaran yang berunjung dilakukannya Pemungutan Suara Ulang (PSU) di sejumlah kabupaten/kota di Maluku.

“Ini disebabkan karena minimnya anggaran yang berdampak buruk terhadap sosialisasi dilaksanakan, sehingga pada akhirnya pemilu yang dilaksanakan juga oleh KPPS terkesan dipaksakan,” ungkapnya.

Amir berharap, pemda lebih jeli lagi dalam melihat masalah yang terjadi didalam pesta demokrasi tersebut. Begitupun dengan badan pengawasan pemilu (Bawaslu) maupun panwaslu pada 11 kabupaten/kota di Maluku dapat bertindak tegas mengawasi seluruh proses kecurangan yang terjadi.

“Pemilu presiden nantinya harusnya tidak lagi diwarnai dengan kecurangan dan manipulasi,” tutupnya. (as)

Comments

comments

Terkait

Komentar anda:

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.