Puluhan Warga NTT Jadi Santapan Buaya

[ilustrasi foto: int]
[ilustrasi foto: int]
Kupang – Sepertinya buaya yang ada di Nusa Tenggara Timur (NTT) mulai marah karena habitanya mulai terganggu. Pasalnya, sejak 2011 hingga 2015 sudah 17 nyawa melayang karena keganasan buaya, bahkan tak terhitung berapa orang yang terluka karena diserang hewan tersebut.

Dari 17 korban meninggal, paling banyak terjadi di Kabupaten Kupang, Malaka, Kota Kupang, Lembata dan Rote Ndao. Khusus untuk Kota Kupang terjadi dua kasus, masing-masing terjadi di Pantai Namosain dan Pantai Lasiana.

Korban terakhir adalah Filipi de Araujo yang terjadi di Noelbaki, Kabupaten Kupang, 9 Mei 2015. Maraknya kasus keganasan buaya ini membuat masyarakat mulai resah apalagi buaya sudah mulai masuk ke area wisata.

Berdasarkan data dari Balai Besar Konservasi Sumberdaya Alam (BBKSDA) NTT, terdapat lima habitat buaya yang ada di wilayah tersebut yakni di Reo (Ngada), Maubesi (Malaka), Manipo (Kabupaten Kupang), Noelmnia (TTS) dan Walakiri (Sumba Timur).

“Spesis buaya yang hidup di NTT adalah buaya muara atau lebih dikenal dengan istilah Latin Crocodylus Porosus. Ini adalah spesis terganas,” kata Ahli Reptil dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Hellen Kurniati seperti dilansir JPNN, 17/5.

Menurutnya, buaya muara mempunyai tingkat adaptasi yang sangat tinggi serta bisa hidup di air asin dan air tawar.

“Daerah jelajahnya di laut, hulu sungai, pantai berpasir halus, hutan bakau dan sungai berair tawar. Jadi daerah jelajahnya sangat luas,” terangnya.

Dia menerangkan bahwa salah satu penyebab buaya berjelajah ke daerah lebih luas adalah kurangnya makanan di daerah teritorialnya.

“Khusus untuk mangsa, makin besar tubuh buaya, maka mereka akan mencari mangsa yang lebih besar,” jelasnya.

Hellen mengatakan bahwa manusia bisa menjadi salah satu mangsanya. Sedangkan sifat berburu mangsa pada buaya adalah menunggu dan mengamati sebelum menerkamnya.

“Jadi manusia yang umumnya menjadi mangsa sedang tidak banyak bergerak, seperti sedang mencuci, mandi, buang air di tepi sungai, atau bahkan sedang memancing,” ungkap Hellen. (as)

Find this content useful? Share it with your friends!