Budaya Maluku 

Tradisi Pukul Sapu: Meski Tubuh Penuh Luka, Tapi Tak Ada Dendam

[foto: int]
[foto: int]
Malteng – Desa Mamala, Kecamatan Leihutu, Kabupaten Maluku Tengah Provinsi Maluku memiliki tradisi unik yang biasa digelar setiap tahun. Tradisi budaya itu sering disebut dengan istilah “Pukul Sapu” yakni dimana ada dua kelompok yang saling memukul dengan menggunakan lidi/batang enau.

Tradisi unik ini memang terbilang ekstrim karena kedua kelompok warga tersebut saling pukul dengan menggunakan sapu lidi hingga tubuh mereka berdarah. Apalagi mereka tidak menggunakan baju atau bertelanjang dada.

Para pemuda yang biasanya berjumlah sekitar 40 – 60 orang itu dengan menggunakan dua hingga tiga batang lidi memukul berkali-kali ke arah badan lawannya dengan sekuat tenaga. Akibat pukulan lidi berkali-kali, hampir semua peserta mendapat guratan merah memanjang sekujur tubuh.

Bahkan, banyak juga diantara mereka yang mengeluarkan darah di tubuhnya. Terkadang ada beberapa potongan batang lidi yang tertancap pada kulit di tubuh mereka. Bahkan tak jarang terdengar erangan dan jeritan kesakitan para pemain.

Begitupun dengan ekspresi warga yang dibuat ngeri dengan atraksi budaya ekstrim dan menantang tersebut. Banyak, diantara mereka yang menontot berteriak berteriak histeris karena melihat banyak peserta yang terluka.

Setelah selesai, para peserta mengolesi luka dengan minyak khas Mamala atau minyak tasala. Bahkan banyak dari penonton yang ikut berebut minyak tersebut yang dipercaya bisa mengobati beberapa penyakit seperti patah tulang dan penyakit kulit

Hal unik yang bisa diambil hikmah dari tradisi ‘Pukul Sapu’ ini adalah meski tubuh penuh luka akibat pukulan-pukulan sapu lidi itu, tak ada dendam di antara mereka melainkan silaturahmi yang semakin terjaga.

Tradisi ini biasa digelar pada tanggal 7 di bulan Syawal sekaligus merayakan bulan Syawalan setelah sebulan menjalankan Puasa Ramadhan. Tahun ini, Tradisi ini telah digelar pada Jumat (24/7) kemarin di pelataran Masjid Mamala.

Meski di daerah ini tengah terjadi konflik, namun tradisi Pukul Sapu ini tetap dilakukan. Sebagai upaya pengamanan, sebanyak 500 personil akan dikerahkan untu mengamankan pelaksanaan tradisi tahunan tersebut. (aK)

Find this content useful? Share it with your friends!

Terkait

Leave a Comment

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

Dirgahayu Kota Ambon