Daerah Hot Nusa Tenggara Timur 

Kemarau Panjang, NTT Terancam Rawan Pangan

Kupang, indonesiatimur.co – Kemarau panjang yang terjadi tahun ini ditengarai dapat menyebabkan kondisi rawan pangan di setidaknya 11 kabupaten, di provinsi Nusa Tenggara Timur. Hal ini diungkapkan oleh Ketua DPRD NTT, Anwar Pua Geno dalam rapat paripurna yang dihadiri oleh Gubernur NTT beserta jajarannya, Selasa (5/9/2017).

Menurutnya anomali iklim dan cuaca yang menyebabkan provinsi kepulauan ini dilanda kemarau dan berulang setiap tahun.

Advertisements

“Setidaknya pada 11 kabupaten kita di NTT yang menyampaikan kekeringannya agar diperhatikan kondisi ketahanan pangannya,” katanya.

DPRD NTT mencatat darurat kekeringan di 11 kabupaten tersebut termasuk, Flores Timur, Lembata, Alor, Belu, Malaka, Timor Tengah Utara (TTU), Rote, Sabu, Sumba Timur, Sumba Tengah dan Sumba Barat Daya (SBD).

Pihaknya meminta gubernur bersama jajaran pemerintah provinsi agar memastikan ketersediaan pangan yang cukup selama musim kemarau, karena kondisi kekeringan berkepanjangan ini dapat meningkat menjadi kondisi rawan pangan. Dia juga menekankan agar optimalisasi berbagai infrastruktur sumber mata air bersih menjadi sangat prioritas pemerintah setempat.

Ketua DPRD NTT Anwar Pua Geno. [Foto: delegasi.com]
“Agar kebutuhan air bersih masyarakat kita bisa dijamin dalam kondisi kekeringan seperti ini,” kata politisi Partai Golkar itu.

Terkait isu ini, Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) NTT Tini Tadeus mengkonfirmasi ancaman rawan pangan ini. Menurutnya kekeringan hebat yang melanda ratusan desa telah membawa dampak buruk terhadap warga desa terutama di pedalaman.

“Mereka kesulitan mendapatkan air bersih,” katanya

Dia menambahkan bila ada bantuan tanggap darurat yang dilakukan pemerintah kabupaten hanya berupa air bersih yang cukup untuk kebutuhan minum dan memasak saja. Sedangkan untuk mandi dan cuci warga harus memanfaatkan sumber-sumber mata air lain.

Menurutnya laporan darurat kekeringan itu juga disertai dengan permintaan anggaran sekitar Rp10 miliar, dan diteruskan ke Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) untuk dipertimbangkan.

 

Warga Desa Tanambanas mulai mengkonsumsi ubi hutan

Sebagian besar penduduk warga desa Tanambanas, Kecamatan Umbu Ratu Nggay Kabupaten Sumba Tengah,  saat ini sudah dalam kondisi rawan pangan.

Demi mengatasinya, sejumlah warga Tanambanas mulai mencari ubi hutan (iwi) di lereng dan lembah gunung. Ini diungkapkan oleh Gerson Umbu Joku, seorang warga Tanambanas melalui telepon selulernya, Minggu (3/9/2017)

Menurut Gerson, tanaman jagung dan ubi yang diharapkan dapat memenuhi kebutuhan persediaan pangan warga mengalami kegagalan karena kemarau panjang. Sehingga warga mulai mencari iwi.

“Yah,, sebetulnya yang diharapkan warga disini tanaman-tanaman tadi itu, seperti jagung, keladi dan ubi tapi dengan musim kemarau panjang ini semua tidak jadi,” ujar Gerson.

Gerson mengungkapkan bahwa pencarian ubi hutan dilakukan warga pada siang hari, setiap hari.

“Jadi kalau mau dibilang ubi ini beracun, tapi warga sudah biasa dengan cara bersihkan dulu lalu diiris dan dijemur selama sehari, esok harinya direndam di sungai untuk menghilangkan racunnnya setelah itu dijemur lagi baru dapat di makan,” katanya lagi.

Dia berharap pemerintah kabupaten Sumba Tengah dapat memberi perhatian serius dalam upaya pencegahan rawan pangan, agar tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Pengolahan ubi hutan untuk konsumsi yang tidak tepat dapat berakibat fatal. [Senopati M]

 

Sumber: Antara/nttonlinenow

Comments

comments

Terkait

Komentar anda: