Maluku Nasional 

Pesparawi Nasional Ke-XI Ditutup Menristek-Dikti

Menristek DiktiAMBON –  Pesta Paduan Suara Gerejawi (Pesparawi) Nasionak ke-XI akhirnya ditutup oleh Mentri Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Menristek-Dikti) Mohamad Nasir.

Dalam sambutannya, Mohamad Nasir mengatakan, Pesta Paduan Suara Gerejawi (Pesparawi) Nasional ke-XI memiliki makna yang penting bagi wahana pemantapan wawasan

Keagamaan umat kristiani pada khususnya. Dengan melalui persembahan pujia-pujian kepada tuhan, dimana umat kristiani di asa dan diperdalaman kualitas spiritulitasnya serta makin diperteguh kadar keimanannya dan cinta kasih yang tulus kepada sesama.

Menurutnya, ini sangat sesuai dengan tema Pesparawi Nasional ke-XI “Sungguh alangkah baik dan indahnya hidup dalam persaudaraan yang rukun”. Tema ini  mempunyai arti yang dalam terbukti dari suksesnya Pesparawi sehingga dapat dijadikan untuk memperdalam wawasan kebangsaan dalam kehidupan yang majemuk.

“Pesparawi ini adalah bagian dari pendukung budaya bangsa yang beraneka ragam yang diharapkan akan turut mendorong kesadaran ke arah pentingnya memuji Tuhan dengan berbagai bentuk Seni dengan bernyanyi, memetik kecapai, menambur dan sebagainya,” ucap Menristek-Dikti, Sabtu (10/10).

Dengan demikian, lanjutnya Pesparawi memiliki makna ganda baik dalam hubungan umat kristiani maupun dalam rangka kehidupan masyarakat Indonesia secara menyeleruh.

Sementara itu, Gubernur Maluku Ir. Said Assagaff dalam sambutannya, mengatakan suksesnya Pesparawi ini bisa menjadi pembuktian bahwa Maluku kini menjadi labrotorium kerukunan hidup orang basudara di Indonesia.

“Saya bangga momentum Pesparawi telah menjadi milik bersama semua umat beragama. Para kontingen dari 33 provinsi, saya yakin sudah mendapatkan kesan yang berbeda tentang ambon yang manis dan sikap toleransi inklusif, karakter ini tumbuh dalam semua lapisan,”ujarnya.

Dirinya mengingat bahwa apa yang dihasilkan ini sama dengan sewaktu Maluku ditunjuk sebagai tuan rumah pelaksanaan Pesparawi mahasiswa tingkat nasional tiga tahun yang lalu.

“Karena itu kita bukan saja menjelaskan kepada indonesia tentang suasana hati orang Maluku yang sesungguhnya. Melalui kami kota mendemonstrasikan dengan jujur dan tulus kepada dunia seluruh situasi hidup orang basuadara yang terlahir secara luhur dan abadi,”tuturnya.

Menurutnya, sukses penyelenggara Pesparawi ke-XI sesungguhnya mengenapi kesuksesan MTQ nasional tahun 2012 yang lalu. Baik Pesparawi dan MTQ Nasional adalah kampanye provokasi dan kampanye dan provokasi perdamaian Indonesia untuk dunia serta wujud solidaritas untuk beragama untuk menjadi model ditengah tindakan dehumanisasi yang masih terjadi di berbagai belahan bumi.

Jelasnya,  ada tiga point penting yang menjadi refleksi kita bersama, pertama Pesparawi di kota Ambon merupakan berkah yang luar biasa bagi masyarakat Maluku. Sebab melaluinya konstruksi tentang bagaimana membangun dinamika hidup komunikasi dan toleransi yang semakin transparan antar kelompok masyarakat dan antar umat beragama di Maluku terus diperkuat. Melalui pelayanan basudara lintas agama di ajang Pesparawi ini membuktikan bahwa hidup orang basudara adalah kekuatan, membangun kohesi antar umat beragama. Ini harus kita pertahankan sebab Pesparawi Nasional di Maluku sudah menjadi milik semua umat beragama dan itu adalah fakta dan tidak terbantakan.

Kedua, Pesparawi nasional bukan saja memaju Ambon sebagai kota music, tetapi berimplikasi humanis, sosialis,  kultural dan toleransi. Dimana ia mampu menembusi tembok-tembok modernisasi, bahkan rasionalitas sekalipun.  Semua itu menjadi nilai tambah, dan dimaknai rangka mendukung Maluku agar lebih sejahtera, rukun, religius, aman, berkuliats dan berdemokrasi dijiwai semangat siwalima berbasis kepulauan secara berkelanjutan.

Ketiga, Pesparawi boleh berakhir namun pesaudaraan yang rukun di antar warga masyarakat Maluku akan tetap abadi.

Dirinya menyakini bahwa Maluku akan lebih maju lagi. Karena sementara ini kita sedang menuju persudaraan yang rukun dan damai. Sesuai tema Pesparawi “Sungguh alangkah baik indahya hidup dalam persaudraan yang rukun”.

“La biar api injil tarus menyala, menyala di katong hati, la biar akan pung cahaya terpancar di tanah Ambon manise,”cetusnya.

Sementara itu, Seketaris umum LPPN Andar Gultom, mengatakan suasana yang kondusif damai, religisu dan bebas konflik, kiranya menjadi pesan kerukunan yang harus dibawah ke  daerah masing-masing. Agar kerukunan ini tidak hanya di Ambon tetapi diseluruh pelosok nusantara.

Semangat kepeloporan dalam menghayati nilai-nilai keagamaan dalam rangka meningkatkan keimanan, kiranya tidak hanya menjadi semangat sesaat, namun terus dikembangkan dan dijadikan pemahaman dan modal bersama kehidupan bermasyarakat.

“Pelaksanaan Pesparawi di Ambon akan memancarkan api kerukunan bagi seluruh bangsa dan negara indonesia,”ungkapnya.

Kata Gultom, tujauan utama Pesparawi bukanlah mengutamakan persaingan, melainkan menekankan kepada penumbuhan rohani semangat dan kesatuan hati dalam memuji dan memuliakan nama Tuhan. Seperti kata pepatah  “Tak ada gading yang tak retak”, biarlah untuk setiap pengalaman yang baik menjadi ungkapan yang harum, dan kira kekurangan dan kelemahan kiranya menjadi pelajaran semua kalangan untuk menyukseskan Pesaparawi yang akan datang.

“Dengan kerjasama ini akan ditunjukan kepada seluruh masyarakat Indonesia, bahwa Maluku adalah laboratorium kerukunan, bahkan negara lain akan mempelajari kerukunan di bumi seribu pulau ini,”tuturnya.

Ketua panitia Pesparawi Zeth Sahuburua dalam laporannya, mengatakan jumlah peserta dari seluruh indonesia 6868 orang, berasal dari 34 provini yg berpatisipasi dalam ivent nasional ini. Dengan mengikuti kegiatan pokok dalam hal ini seluruh kategori lomba yang diselenggarakan mulai dari tanggal 3 – 10 Oktober , sedangkan kegiatan penunjang yaitu Maluku Expo yang berlangsung dari tanggal 3 – 8 Oktober di.

Jelasnyan dari kontingen Pesparawi di Ambon realitas sosial menunjukan Pesparawi mampu menjadi perekat anak bangsa, yang mendiami hamparan pulau-pulau di bumi nusantara.

“Kami di Maluku berhasil membuktikan bahwa Pepsrawi bukan hanya milik umat Kristiani saja namun juga menjadi milik umat beragama,”ucapnya.

Kata Sahuburua, Pesparawi nasional semakin memperkuat kohesi sosial dan membuka ruang publik, dimana dialog kristis seluruh elemen bangsa saling mengingati, membina dan mendeawasakan sebagai orang basudara. Itulah kultur orang basudara yang dimaknai dari nilai-nilai ke-Maluku-an.

“Saya cuma bisa bilang dangke banyak lai atas dukungan atas suksesnya Pesparawi. Tidak ada daging tak rertak kami mohon maaf jika pelayanan yang diberikan kurang berkenan di hati seluruh kontingen,”tuturnya. (IKA/MEM)

Find this content useful? Share it with your friends!

Terkait

Leave a Comment

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

Dirgahayu Kota Ambon