Daerah Nusa Tenggara Timur 

Korban Banjir di Belu Bertahan Hidup dengan Makan Pisang dan Minum Air Kelapa

 

banjir

Ratusan korban banjir yang berada di 36 desa pada tiga kecamatan di Kabupaten Belu, Nusa Tenggara Timur (NTT), mulai kelaparan.

Saat ini para korban bertahan hidup dengan makan pisang dan minum air kelapa. Pasalnya, bantuan darurat dari pemerintah daerah setempat belum menjangkau seluruh korban. Tiga kecamatan yang dilanda banjir adalah Malaka Barat, Malaka tengah, dan Kecamatan Weliman.

“Sudah hampir sepekan ini kami hanya makan pisang dan kelapa karena tidak punya uang untuk membeli beras,” kata Wences Klau, warga Desa Lasaen, salah satu desa di Kecamatan Malaka Barat yang dilanda banjir, Selasa (25/6), seperti dikutip dari Metrotvnews.com.

Ia mengatakan, pisang dipetik dari kebun kemudian direbus atau dibakar untuk dikonsumsi bersama anggota keluarga dan korban banjir lainnya. Pisang dan kelapa merupakan dua jenis makanan yang dimiliki warga korban banjir saat ini. Sementara itu, tanaman pertanian lainnya seperti jagung, ubi dan kacang-kacangan ludes tersapu banjir.

Ada juga warga yang mengonsumsi daun pepaya dan pucuk daun pisang. Seperti Keluarga Yohanes Seran, warga Desa Lasaen, mengaku seluruh tanaman di kebunnya sudah tidak bisa dipanen lagi karena tersapu banjir dan lumpur. “Lahan juga tidak bisa digarap lagi karena sudah terendam banjir dan lumpur,” katanya.

Sementara itu, Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) NTT Tini Thaedus mengatakan pemerintah telah menyalurkan bantuan berupa beras sebanyak 100 ton dan makanan siap saji bagi korban banjir di Malaka. “Sejak awal banjir kami sudah salurkan bantuan,” katanya. (HAN)

Find this content useful? Share it with your friends!

Terkait

Leave a Comment

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

Dirgahayu Kota Ambon